Surabaya | klikku.net – Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mencatat kegiatan “Penelitian Belia Siswa SD-SMP” yang digelar oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya dalam buku rekor untuk kategori lomba dengan penelitian terbanyak, Rabu (3/5).
Menurut Senior Manager MURI Triyono, penghargaan diberikan karena lomba penelitian dengan total 1001 judul itu, diikuti 2002 pelajar Surabaya.
“Banyak sekali judul penelitian, luar biasa. Bahkan ada yang menampilkan karya peraga. Ini kali pertama penelitian yang diikuti banyak siswa SD dan SMP,” ujarnya, di Komplek Balai Pemuda Surabaya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, kegiatan ini membuktikan bahwa guru SD dan SMP di Kota Surabaya, memiliki kemampuan dan kualitas untuk memunculkan sisi kreativitas para pelajar.
“Para guru telah menggerakkan anak-anaknya, untuk terus berkreasi dan menyemangati, hingga mampu melakukan penelitian,” ujar Cak Eri.
Ia menambahkan, kegiatan serupa tak hanya berhenti tahun ini saja. Sekalipun sudah tercatat dalam buku MURI. Tetapi hal tersebut bakal terus dilakukan.
“Penghargaan ini hanya langkah awal. Pemkot Surabaya melalui Dispendik, akan menggagas ajang yang bisa menjadi ruang berkreasi bagi para pelajar,” ungkapnya.
“Mereka calon pemimpin, terus mampu melakukan yang terbaik untuk Kota Surabaya,” ujarnya.
Cak Eri juga meminta Dispendik Surabaya untuk melakukan tahapan pengembangan hasil penelitian, setelah dilakukan penilaian juri.
“Setelah penelitiannya memenuhi syarat. Kami akan digunakan untuk kepentingan kota & masyarakat Surabaya,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Yusuf Masruh menyatakan, akan berkoordinasi dengan sejumlah kedinasan di lingkungan pemkot. Terkait pengembangan dan pengenalan barang hasil penelitian para pelajar.
“Harapannya produk anak-anak ditindaklanjuti dan dikoordinasikan dengan Dinkop (Dinas Koperasi) dan lain-lain,” kata Yusuf.
Di sisi lain, pelaksanaan “Penelitian Belia Siswa SD-SMP” juga menyelaraskan dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Kemudian, Dispendik juga mempersiapkan model pola asuh untuk pengembangan peneliti.
“Kebetulan Kurikulum Merdeka banyak kegiatan projek. Harapannya anak-anak akan terus aktif. Jadi tidak penelitiannya saja, tetapi juga skill,” tuturnya.
