SURABAYA | klikku.id – Lahir di keluarga dokter membuat Atika Salsabillah Zein akrab dengan dunia medis sejak kecil.
Sang ayah merupakan dokter spesialis radiologi, sementara kakak-kakaknya hingga saudara kembarnya juga menempuh profesi yang sama.
Kini, Atika resmi mengikuti jejak keluarganya setelah dilantik dan diambil sumpah sebagai dokter baru di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (21/5).
“Dari kecil saya memang dekat dengan dunia kedokteran karena keluarga semua dokter,” ujarnya.
Meski tumbuh di lingkungan medis, Atika sempat bimbang menentukan masa depan. Saat SMA, ia pernah tertarik masuk jurusan teknik biomedik.
Namun nilai pengabdian dan kepedulian terhadap sesama yang diajarkan keluarganya membuat ia mantap memilih kedokteran.
Berbeda dari anggapan banyak orang soal keluarga dokter yang penuh tekanan akademik, Atika justru mengaku dibesarkan dalam suasana hangat dan suportif.
Ketika mengalami kesulitan kuliah, ayahnya tidak pernah memarahinya. Sang ayah justru memberi semangat agar tetap tenang menghadapi proses pendidikan.
“Kalau mengulang, ilmunya malah lebih nyantol,” kenang Atika menirukan pesan ayahnya.
Perjalanan menjadi dokter juga tidak dilalui sendirian. Suaminya yang merupakan teman satu angkatan di Fakultas Kedokteran Unusa menjadi pendamping utama selama menghadapi masa-masa berat, terutama saat persiapan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
Mereka sering belajar bersama hingga larut malam sambil saling menguatkan menghadapi tekanan akademik.
Setelah resmi menyandang gelar dokter, Atika kini mulai menata mimpi berikutnya. Ia ingin melanjutkan pendidikan spesialis dermatologi atau kulit dan kecantikan.
Ketertarikannya pada dunia skincare dan kesehatan kulit membuatnya bercita-cita membangun brand perawatan kulit miliknya sendiri di masa depan.
“Dermatologi bukan cuma soal estetika, tapi juga kesehatan dan rasa percaya diri seseorang,” katanya.
Sambil menunggu masa internship bersama sang suami, Atika memilih terus belajar dan mengembangkan diri.
Baginya, perjalanan menjadi dokter bukan soal siapa paling cepat lulus, melainkan siapa yang mampu bertahan hingga akhir. “Yang penting tetap berusaha dan jangan menyerah,” tuturnya. AM@n
