Surabaya | klikku.net – Usia bukanlah penghalang untuk terus belajar, dan hal ini dibuktikan oleh Endang Larasati. Di usianya yang ke-32, Endang kembali ke bangku kuliah untuk melanjutkan pendidikan profesi bidan, sambil menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan bidan aktif.
Meskipun tugas-tugasnya sebagai seorang bidan telah dijalani sejak 2010 dengan ijazah D3. Dia merasa perlu memperluas pengetahuan dan keterampilannya agar bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
“Sekarang ini, untuk bisa membuka praktik mandiri, seorang bidan harus minimal lulusan S1 dan mengikuti pendidikan profesi. Selain itu, dunia kebidanan terus berkembang. Jadi saya merasa harus selalu memperbarui ilmu agar bisa memberikan layanan yang terbaik,” jelasnya, tentang motivasi untuk melanjutkan studi.
Endang, yang kini memiliki tiga anak, mengakui bahwa mengatur waktu antara pekerjaan, kuliah, dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga adalah tantangan tersendiri.
“Pagi saya bekerja sampai jam tiga sore, kemudian langsung kuliah. Setelah pulang, saya kembali menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Tugas kuliah biasanya saya kerjakan di atas jam 10 malam, setelah anak-anak tidur,” ujarnya. Meski lelah, Endang menjalani semua itu dengan penuh syukur.
Kunci keberhasilan Endang dalam menjalani berbagai peran ini adalah dukungan penuh dari suaminya, Pri Agung Setiawan.
“Suami saya sangat mendukung. Bahkan saat saya ditempatkan di Madura untuk tugas profesi, ia dengan senang hati mengantar. Kami juga berbagi tugas dalam mendidik anak-anak,” tambahnya.
Tak hanya dukungan dari keluarga, Endang juga menerima bantuan besar dari tempat kerjanya. Rumah sakit tempat ia bekerja memberikan beasiswa, yang menjadi keringanan finansial besar bagi Endang dalam melanjutkan pendidikan.
Selain itu, rekan-rekan kerjanya juga mendukung dengan membantu bergantian dalam tugas-tugas di lapangan.
“Saya sangat berterima kasih atas beasiswa ini. Dukungan dari tempat kerja juga sangat berarti, karena jika ada tugas mendadak, saya bisa mengatur waktu dengan teman-teman,” katanya dengan rasa syukur.
Bagi Endang, menjadi bidan bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga panggilan jiwa. Ia merasa tergerak untuk membantu perempuan melalui proses melahirkan, momen penting dalam kehidupan mereka.
“Kehadiran bidan yang kompeten sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi. Memberikan rasa aman dan nyaman selama proses persalinan menjadi motivasi terbesar saya,” jelasnya.
Dengan semua pengalaman dan semangat belajarnya, Endang berharap pendidikan berkelanjutan akan meningkatkan kualitas layanan kebidanan.
“Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Pendidikan adalah bekal terbaik untuk menghadapi masa depan,” pungkasnya optimis.
@Man
