Opini

Selasa, 20 Mei 2025 - 09:28 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Film Viral dan Budaya Konsumsi Sinema Indonesia, Antara Tren dan Harapan

Surabaya | klikku.id – Fenomena film Indonesia yang diangkat dari kisah viral media sosial kembali mencuri perhatian. Salah satunya adalah Ipar adalah Maut, film yang terinspirasi dari cerita tragis yang ramai diperbincangkan di jagat maya.

Tren ini, menurut Angga Prawadika Aji SIP MA, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), mencerminkan ketergantungan audiens pada konten viral sebagai daya tarik utama dalam memilih tontonan.

“Para pembuat film mencari jalan termudah dengan memastikan animo masyarakat yang sudah dapat diprediksi,” ujar Angga.

Menurutnya, pola ini menunjukkan kecenderungan industri film untuk menghindari risiko kreatif, dengan mengandalkan cerita yang telah divalidasi oleh khalayak melalui popularitas di media sosial.

Tren ini tidak sepenuhnya baru, terutama dalam genre horor Indonesia. “Kisah-kisah horor sehari-hari sering kali diangkat untuk memberikan validitas kepada pengalaman personal audiens,” tambah Angga.

Ia mencontohkan, bahwa tragedi seperti kisah nyata korban tabrak lari yang dijadikan film, menjadi magnet bagi penonton yang ingin melihat peristiwa tersebut divisualisasikan.

Lebih jauh, Angga menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar membahas tragedi orang lain. “Tragedi menjadi semacam gosip kolektif yang kemudian memunculkan kesenangan ketika divisualisasikan di layar lebar,” jelasnya.

Namun, Angga memperkirakan bahwa tren ini pada akhirnya akan menemui titik jenuh. Meskipun tidak sepenuhnya hilang.

Di tengah tingginya animo terhadap film, Angga berharap masyarakat dapat meningkatkan literasi sinema mereka. Dengan begitu, audiens dapat lebih terbuka terhadap karya-karya yang menawarkan perspektif dan cerita yang berbeda.

“Saya ingin audiens menyadari bahwa film horor atau drama cinta, tidak hanya sebatas tren viral. Dengan begitu, film-film berkualitas yang membawa ide segar, dapat lebih diterima,” pungkasnya.

Fenomena ini menjadi cerminan kompleksitas hubungan antara tren, industri, dan preferensi audiens di Indonesia, yang terus berkembang seiring waktu.


@Man

118

Baca Lainnya