Pendidikan

Kamis, 10 Juli 2025 - 15:22 WIB

11 bulan yang lalu

logo

Unusa dan Pakar Jepang Kenalkan Modul J*sKeps untuk Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Surabaya | klikku.id – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di Indonesia terus dilakukan. Salah satunya dengan menghadirkan pendekatan baru dalam memahami dan mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.

Rabu (9/7/2025), Unusa menggandeng Tasuc Corporation dari Jepang untuk memperkenalkan modul Japanese Seven Key Points (J*sKeps) dalam Kuliah Pakar yang digelar di Auditorium Lantai 9 Unusa Tower.

Modul ini dibawakan langsung oleh Ukai Saito, pakar pendidikan anak berkebutuhan khusus dari Tasuc Corporation.

Dalam paparannya, Ukai menjelaskan bahwa pendidikan inklusif di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan, terutama dalam hal pemahaman dan pendekatan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

“Saya ingin berbagi pengetahuan dengan teman-teman di Indonesia. Jepang pernah mengalami situasi yang sama, dan saya percaya Indonesia memiliki komitmen kuat untuk memperbaiki sistem pendidikan inklusif,” ungkap Ukai.

Ia menekankan pentingnya pemberian pemahaman, pengalaman, dan keyakinan kepada anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka tidak merasa terdiskriminasi dan mampu tumbuh percaya diri.

Salah satu kunci dari modul J*sKeps adalah pendekatan melalui asesmen dinamis, yang tidak hanya fokus pada diagnosis seperti asesmen konvensional, tetapi juga menyoroti apa yang perlu dilakukan ke depannya.

“Asesmen ini bersifat berkelanjutan dan dilakukan secara periodik selama setahun penuh. Pendekatan ini sudah banyak diterapkan di negara-negara maju seperti Amerika dan Inggris,” jelasnya.

Ukai juga membeberkan hasil riset di Jepang, yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan ASD, ADHD, dan gangguan perkembangan otak mengalami penuaan fisik lebih cepat, bahkan mulai di usia 40 tahun.

Fenomena ini sempat menyebabkan kekhawatiran di kalangan orang tua Jepang, hingga menimbulkan keputusan ekstrem.

“Kami tidak ingin hal ini terjadi di negara lain, termasuk Indonesia. Maka dari itu, keseriusan dalam membangun sistem pendidikan inklusif sangat penting,” tambah Ukai.

Tak hanya membagikan teori, Ukai juga mengajak peserta kuliah pakar untuk mencoba langsung berbagai alat bantu pembelajaran dan teknik pendekatan interaktif dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus.

Rektor Unusa, Prof. Achmad Jazidie, M.Eng., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya kesadaran dan kemampuan berkomunikasi yang tepat dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Kita harus menghormati mereka dan memahami cara terbaik untuk mendampingi mereka belajar dan berkembang,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Unusa berharap bisa mencetak tenaga pendidik yang siap menghadapi tantangan pendidikan inklusif. Sekaligus menjadi pelopor dalam penerapan pendekatan humanis berbasis ilmu pengetahuan. @Man


 

91

Baca Lainnya