Sumenep | klikku.id – Pernikahan dini masih jadi pekerjaan rumah besar di Sumenep. Untuk menekan angka yang dinilai masih tinggi, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat menggulirkan program Gerakan Lajang Indonesia Anti Tergesa Nikah atau Geliat.
Kepala Kemenag Sumenep Abdul Wasid mengatakan, program ini bukan sekadar kampanye, melainkan ikhtiar serius membentuk generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan.
“Geliat diharapkan jadi gerakan jangka panjang yang mampu memutus rantai pernikahan dini serta meningkatkan kualitas generasi muda di Sumenep,” jelas Wasid, Senin (4/8/2025).
Ia menambahkan, pemetaan bersama Pemkab Sumenep menunjukkan pernikahan dini erat kaitannya dengan kualitas hidup masyarakat.
Banyak kasus stunting atau gizi buruk terjadi pada anak dari pasangan yang menikah saat usia dan pendidikannya belum matang.
“Kalau menikah di usia cukup, bekal pengetahuan dan kesiapan membina rumah tangga biasanya lebih baik, sehingga anak juga tumbuh lebih sehat,” ujarnya.
Meski tren menurun, jumlah pengajuan dispensasi nikah di Sumenep masih terbilang tinggi. Pada 2022 tercatat 313 kasus, 2023 sebanyak 269, dan 2024 masih 212 kasus.
“Penurunannya memang ada, tapi ratusan kasus tetap tinggi. Karena itu, perlu langkah konkret dan konsisten,” tegas Wasid. R3d
