Pendidikan

Rabu, 20 Agustus 2025 - 18:08 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Profesor ITS Ubah Limbah Jadi Adsorben, Efektif Serap Logam Berat hingga 99 Persen

Surabaya | klikku.id – Persoalan limbah di Indonesia masih jadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Namun, Guru Besar ke-223 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Yatim Lailun Ni’mah, menawarkan terobosan: mengolah limbah jadi material penyerap (adsorben) ramah lingkungan.

Dosen Departemen Kimia Fakultas Sains dan Analitika Data ITS itu menegaskan, pencemaran logam berat, pewarna sintetis, hingga bahan kimia industri makin mengkhawatirkan seiring pesatnya aktivitas pertanian dan industri.

“Limbah bisa jadi aset, bukan sekadar sampah,” ujar perempuan kelahiran Jombang itu.

Ni’mah mengembangkan metode adsorpsi dengan memanfaatkan limbah pertanian, seperti sekam padi, kulit manggis, dan bonggol jagung, untuk menghasilkan karbon aktif.

Sementara limbah padat industri, misalnya botol kaca dan abu terbang (fly ash), diolah menjadi silika gel. Kedua jenis adsorben ini terbukti mampu menyerap kontaminan berbahaya.

Hasil risetnya bahkan mencatat keberhasilan sintesis silika gel dari limbah botol kaca dengan tingkat kemurnian 75,63 persen.

Material ini efektif menyerap logam berat tembaga, seng, hingga timbal dengan efisiensi penyerapan mencapai 99 persen. Sementara biosorben dari limbah organik mampu menurunkan polutan lebih dari 90 persen.

“Metode adsorpsi efektif, murah, dan fleksibel. Bisa dipakai mulai skala rumah tangga sampai industri, termasuk di daerah yang infrastrukturnya terbatas,” terang Kepala Prodi Sains Analitik dan Instrumentasi Kimia ITS itu.

Selain memberi solusi tepat guna, inovasi ini juga mendukung konsep ekonomi sirkular: limbah diputar kembali menjadi produk bernilai tinggi.

Tak heran, riset Ni’mah dinilai selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 6 (air bersih dan sanitasi) serta poin 12 (konsumsi dan produksi berkelanjutan).

Bagi ibu tiga anak itu, riset ini bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan langkah konkret agar pengelolaan limbah di Indonesia semakin maju.

“Harapan saya, teknologi ini bisa diproduksi massal dan dipasarkan luas, supaya manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” tegasnya. @Man


 

80

Baca Lainnya