Pendidikan

Kamis, 28 Agustus 2025 - 17:29 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Quddus Salam, Dokter Pertama Pelopor Poskestren di Pesantren

Surabaya | klikku.id – Senyum tak lepas dari wajah Quddus Salam. Kamis (28/8) siang, namanya resmi dipanggil dalam acara pengambilan Sumpah Dokter ke-13 di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Baginya, momen itu bukan sekadar capaian pribadi. Di balik toga dan jas putih, ada perjalanan panjang penuh keraguan, tantangan, sekaligus pengabdian.

Quddus adalah dokter pertama di keluarganya. Sebelumnya, tak pernah terbayang ia akan menekuni profesi ini. Sejak SMA, dunia bahasa jauh lebih menarik baginya. Ia sempat bercita-cita menjadi guru bahasa Arab.

“Orang tua saya melihat saya lebih unggul di pelajaran kimia. Mereka mengarahkan jadi dokter. Awalnya saya hanya mengikuti. Tapi Alhamdulillah, sekarang justru jadi dokter pertama di keluarga,” kenangnya sambil tersenyum.

Lahir di Bangkalan, Madura, 26 April 2001, Quddus tumbuh di lingkungan pesantren. Ayahnya, Kiai Lainul Qolbi Hamzah, adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin. Lingkungan agamis itu kelak menjadi fondasi pengabdian Quddus.

Titik balik datang saat kuliah memasuki semester lima. Ia bertemu mata kuliah kejiwaan yang mengingatkannya pada kegemaran lamanya: membaca buku psikologi.

“Sejak SMP saya suka baca tentang karakter orang. Saat dapat mata kuliah kejiwaan, saya seperti menemukan kembali apa yang saya senangi. Dari situ saya mulai benar-benar mencintai dunia kedokteran,” ujarnya.

Tak berhenti di bangku kuliah, Quddus membawa semangat itu ke pesantren. Pandemi Covid-19 jadi titik awal. Bersama teman-teman Unusa, ia melakukan penelitian dan pengabdian di pondok. Dari situlah lahir gagasan besar, Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren).

“Awalnya sederhana, bagaimana pesantren bisa jadi pusat penguatan kesehatan, bukan hanya pusat pendidikan agama,” jelasnya.

Program ini kemudian menjadi bagian dari Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) yang digagas FK Unusa. Edukasi soal gizi seimbang, pencegahan penyakit, hingga pola hidup bersih diberikan bukan hanya kepada santri, tapi juga warga sekitar pondok.

Quddus melibatkan banyak pihak. Dari mahasiswa kedokteran, santri, Babinsa, hingga puskesmas setempat. Setiap tiga bulan, tim Unusa rutin turun ke pondok. Kini, para santri bahkan sudah bisa mengelola Poskestren secara mandiri.

“Bersyukur sudah ada tim khusus dari santri. Jadi budaya hidup sehat di pesantren mulai terbentuk dengan baik,” ungkapnya.

Ia juga memperkenalkan digitalisasi sederhana. Para santri diajari membuat rekam medis agar pencatatan kesehatan lebih rapi dan berkelanjutan.

“Alhamdulillah, kesadaran santri soal kesehatan meningkat. Orang tua saya sejak awal sangat mendukung. Pesan abah saya jelas, jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu yang selalu saya pegang,” katanya haru.

Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Quddus mantap melanjutkan pengabdiannya. Baginya, profesi dokter bukan hanya karier, melainkan ladang ibadah.

“Saya ingin terus mengembangkan Poskestren. Menjadi dokter bukan sekadar pekerjaan, tapi jalan untuk membawa keberkahan,” tutupnya. @Man


 

67

Baca Lainnya