Pendidikan Peristiwa

Rabu, 3 September 2025 - 18:29 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Cerita Haru di Balik Beasiswa, Rektor Unusa Sambangi Rumah Mahasiswa KIPK

Surabaya | klikku.id – Pendidikan tinggi seharusnya jadi hak semua anak bangsa. Namun, sayangnya, tak semua keluarga memiliki kesempatan itu.

Itulah sebabnya Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berkomitmen nyata lewat program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK), untuk membuka jalan bagi mereka yang bermimpi berkuliah.

Rektor Unusa, Prof. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., bersama Wakil Rektor I, Direktur Akademik & Kemahasiswaan, serta Dekan FKK dan FEBTD, mendatangi rumah dua mahasiswa penerima beasiswa KIPK, Rabu (3/9/2025).

Tujuannya lebih jauh dari sekadar monitor, mereka ingin mendengar langsung perjuangan yang membuahkan harapan.

Kisah Nafisah Galuh: Dari Duka Jadi Tekad

Nafisah Galuh Aurellia, mahasiswa baru D3 Keperawatan yang lahir di Sidoarjo, 21 Maret 2007, adalah anak keempat dari enam bersaudara.

Sejak SD, ia hidup tanpa sosok ayah. “Ayah kami meninggal ketika saya masih kecil,” lahir suara haru di matanya.

Ibu dan paman Galuh berjuang bersama, menjalankan usaha penyewaan sound dan lampu. “Dari situ kami bisa bertahan, Alhamdulillah,” cerita Galuh.

Sekalipun hidup sederhana, semangatnya tak pernah pudar. Ia sudah setia dengan jalur keperawatan sejak SMK.

Bahkan cita-citanya awalnya ingin jadi TNI, namun diarahkan pria yang dicintainya untuk memegang keterampilan yang bisa memberi manfaat nyata: dunia kesehatan.

Tekad itulah yang membuatnya terus melangkah hingga berkuliah di Unusa.

Sang ibu, Lilis Suryati, tak kuasa menahan air mata saat tahu putrinya lolos beasiswa. “Akhirnya anak saya bisa kuliah,” tuturnya penuh haru.

Ia selalu menanamkan kepada anak-anaknya bahwa “utama akhirat, dunia menyusul”, keyakinan yang tumbuh dari doa dan ikhtiar.

Semangat M. Faisal: Tertunda, Bukan Terhambat

M. Faisal, mahasiswa baru S1 Manajemen, justru baru tergerak ingin berkuliah saat kelas 12 SMK. Rencana awalnya adalah membuka usaha.

Berbekal dorongan cousin-nya, yang sudah jadi mahasiswa PG PAUD Unusa, Faisal memberanikan diri daftar KIPK. “Sempat diragukan teman,” katanya, “ngapain kuliah?”

Ternyata, perjalanan Faisal tak mudah. Sejak usia 4 tahun, ia ditinggal ibunya. Ia tinggal dengan ayah yang bekerja sebagai buruh harian. Dan hanya bisa bertemu seminggu sekali, dulu ketika di Jombang.

Saat pindah ke Surabaya, ibadah sekolah baru bisa dimulai saat umur 9 tahun. Ia pun merasa minder karena usianya lebih matang di antara teman-teman sekelas.

Namun, dorongan bapaknya, Pak Budiman, tetap konsisten: “Saya cuma ingin yang terbaik untuk anak saya.”

Rasa bahagia menyelimuti keluarga ketika Faisal akhirnya bisa kuliah, yang hingga kini adalah anak pertama mereka yang masuk perguruan tinggi.

Kunjungan Rektor Unusa hari ini, bukan hanya memastikan bantuan tepat sasaran. Melainkan sebuah pengingat betapa kuatnya tekad, doa, dan usaha. Ketika anak bangsa diberi kesempatan, mereka tumbuh menjadi wajah harapan baru. @Man


 

101

Baca Lainnya