Surabaya | klikku.id – Era digital membawa wajah baru solidaritas warga. Teknologi komunikasi kini bukan sekadar alat, melainkan ruang bersama untuk menumbuhkan kesadaran sosial. Namun, solidaritas di dunia maya tidak boleh berhenti di layar. Ia harus diwujudkan dalam aksi nyata.
Itulah pesan utama dalam Studium Generale bertema “Membangun Solidaritas Warga di Era Digital” yang digelar Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Selasa (9/9/2025).
Acara yang berlangsung di auditorium lantai 4 itu menghadirkan tiga pembicara: Dr. Anastasia Yuni, M.Med.Kom., Caroline Ika, SE., M.A.Comm., serta Putra Aditya Lapalelo S.I.Kom., M.Med.Kom.
Dr. Anastasia menekankan bahwa media digital telah mengubah cara masyarakat bekerja, berinteraksi, hingga bertahan hidup. Menurutnya, ruang digital menjadi wadah ekspresi alternatif untuk membangun solidaritas dan gerakan kolektif.
“Teknologi bukan lagi sekadar alat, tetapi medium yang menyusun ulang cara kita hidup,” ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan agar solidaritas digital tidak berhenti pada kesadaran semu. Harus ada tindak lanjut berupa aksi nyata.
“Sambil rebahan pun kita bisa ikut peduli lewat media sosial. Tapi jangan berhenti di sana. Jadilah bagian dari gelombang besar solidaritas yang berdampak,” ajaknya.
Senada, Caroline Ika, Project Manager Reach to Recovery Surabaya, komunitas survivor dan relawan kanker, menilai aksi di media sosial hanya langkah awal.
“Solidaritas digital bagus, tapi akan jauh lebih kuat jika diteruskan dengan hadir langsung, empati melalui tindakan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan sosial,” tegasnya.
Refleksi kritis juga disampaikan Putra Aditya. Ia menyebut solidaritas sebagai cita-cita kaum muda akademik.
“Gerakan akademik yang kritis tidak akan terwujud tanpa solidaritas, baik di ruang digital maupun fisik. Keduanya harus bersinergi agar lahir warga yang peka terhadap realitas sosial, bukan terjebak narasi tunggal,” ungkapnya.
Studium Generale tersebut dihadiri puluhan mahasiswa yang antusias mengikuti diskusi. Mereka diajak untuk tidak hanya menjadi penonton di dunia maya, tetapi juga aktor perubahan di lingkungan masing-masing. @Man
