Internasional Pendidikan

Minggu, 21 September 2025 - 16:09 WIB

7 bulan yang lalu

logo

Dosen Unusa Masuk 2% Ilmuwan Berpengaruh Dunia, Fokus Beri Solusi Lingkungan untuk Pesantren

Surabaya | klikku.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Achmad Syafiuddin, dosen muda Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Ia masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia yang dirilis Stanford University bersama Elsevier BV pada 19 September 2025.

Capaian ini bukan yang pertama, melainkan lima tahun beruntun sejak 2021.

Dari 209 peneliti Indonesia yang tercatat tahun ini, Syafiuddin berada di peringkat 17. Sehari-hari, ia mengajar di Program Studi Kesehatan Masyarakat Unusa dan kini dipercaya sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) kampus tersebut.

Ia juga diangkat menjadi Adjunct Professor di Saveetha Institute of Medical and Technical Sciences (SIMATS), India, yang berada di peringkat 26 dunia versi QS World University Rankings 2025.

Lahir di Madura sebagai anak yatim dan dibesarkan oleh ibu penjual jamu keliling, Syafiuddin membuktikan keterbatasan bukan penghalang.

Melalui beasiswa Bidik Misi 2010, ia meraih gelar sarjana dari IPB, lalu melanjutkan magister dan doktor di Universiti Teknologi Malaysia.

Alih-alih mengejar riset di laboratorium canggih, Syafiuddin justru memusatkan perhatiannya pada persoalan kesehatan lingkungan di pesantren.

Ia mendirikan Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP) di Unusa, pusat kajian pertama di Indonesia yang secara khusus menangani isu kebersihan air, sampah, dan sanitasi di pondok pesantren.

Hingga kini, ia telah melahirkan 124 publikasi ilmiah terindeks Scopus dengan H-Index 30, sekaligus mengembangkan inovasi yang memberi dampak nyata bagi puluhan ribu santri dan masyarakat.

Dua temuannya yang paling dikenal adalah UNUSA-Water dan UNUSA-Incinerator. UNUSA-Water adalah sistem filtrasi bertingkat berbahan alami untuk mengubah air kotor menjadi layak minum, sudah terpasang di 10 provinsi dan memberi akses air bersih bagi 49.883 orang.

Sementara UNUSA-Incinerator, alat pengolah sampah tanpa asap berbasis water spraying dan filtrasi, telah diterapkan di tiga provinsi dan bermanfaat untuk lebih dari 43 ribu orang.

“Total, kedua inovasi ini membantu lebih dari 93 ribu warga di Indonesia,” kata Syafiuddin.

Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie, mengapresiasi capaian itu sebagai bukti kualitas kampus yang relatif muda namun sudah melahirkan ilmuwan berkelas dunia.

“Syafiuddin membuktikan riset bisa langsung memberi solusi bagi masyarakat,” ujarnya.

Meski sarat penghargaan, Syafiuddin tetap rendah hati. Ia menegaskan, tujuan utama penelitiannya adalah memberi manfaat nyata.

“Ilmu itu harus kembali ke masyarakat. Pesantren, sebagai bagian penting bangsa ini, berhak mendapatkan solusi atas masalah lingkungan yang mereka hadapi,” ujarnya. @Man


 

102

Baca Lainnya