MALANG | klikku.id — Petani kopi di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, mulai meninggalkan cara lama. Proses pascapanen yang dulu serba manual kini beralih ke sistem berbasis teknologi.
Sentuhan digital itu hadir lewat kolaborasi dosen Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya dengan dukungan hibah United Kingdom–Indonesia Social Action Grant 2025 dari British Council.
Sebanyak 26 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Berkah Tani Nyawiji (BTN) resmi menerima fasilitas pengolahan kopi modern dalam acara serah terima peningkatan kapasitas pengolahan kopi berkelanjutan, 22 Januari 2026. Hadir pula Kepala Desa Sumberdem, Purwati, SE.
Program ini dipimpin dosen Teknik Industri UK Petra Iwan Halim Sahputra bersama dua koleganya: Indar Sugiarto (Teknik Elektro) dan Hariyo Priambudi Setyo Pratomo (Teknik Mesin).
Mereka melanjutkan program tahun sebelumnya yang sudah membangun rumah jemur kopi dan mesin pengupas bertenaga surya.
Pada tahap kedua, kapasitas rumah jemur diperbesar hingga mampu menampung 8 kuintal–1 ton ceri kopi basah sekali proses. Tim juga menambahkan mesin sortasi biji kopi, alat ukur kadar air (moisture meter), serta memperkuat sistem panel surya untuk memasok listrik peralatan.
“Pengolahan kopi tidak lagi berdasarkan kira-kira. Sekarang berbasis alat dan sistem yang lebih konsisten,” kata Iwan.
Mesin sortasi rancangan Hariyo mampu memisahkan biji kopi berdasarkan ukuran dengan cepat dan rapi sehingga mutu lebih seragam.
Sementara itu, tambahan panel surya hasil perhitungan Indar membuat operasional mesin lebih stabil dan ramah lingkungan. Moisture meter membantu petani menentukan kadar air ideal sebelum roasting agar rasa tetap terjaga.
Manfaatnya langsung terasa. Wasis, Wakil Ketua BTN, menyebut pekerjaan kini jauh lebih cepat dan rapi. “Kami lebih percaya diri dengan kualitas kopi. Minat pembeli naik dan harga produk juga ikut membaik,” ujarnya.
Ke depan, kelompok BTN ditargetkan mampu mengelola seluruh rantai pascapanen secara mandiri: dari pengeringan, sortasi, hingga produk akhir.
Kolaborasi kampus dan masyarakat ini menjadi bukti bahwa hibah internasional bisa mendorong pembangunan lokal yang berkelanjutan, dimulai dari kebun kopi di lereng Malang. AMan
