Komunitas Peristiwa

Sabtu, 28 Februari 2026 - 09:34 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Kisah Pedagang Tahu Keling di Bratang Gede, 23 Tahun Pulang Pergi Sumobito Jombang-Surabaya

SURABAYA | klikku.id – Diantara hiruk pikuk kota pahlawan Surabaya, sosok Saiful (45) melintas dengan sepeda motor bersirine berbunyi tolilet -tolilet, dengan tahu dagangannya tersusun rapi didua blek yang dibonceng menyusuri jalan jalan di gang gang Bratang Gede untuk mendatangi pelanggannya yang kebanyakan ibu ibu.

Saiful (45) adalah sosok pedagang tahu yang sehari-hari berjualan di Jalan seputaran, Ngagel Tirto, Bratang dan Bratang Gede Kelurahan Ngagelrejo Kec Wonokromo Surabaya. Selain itu, ia juga punya langganan di Surabaya Barat, yakni di kawasan Jalan Putat Jaya Kec Sawahan.

Tak banyak yang tahu, setiap hari Saiful berjualan di Surabaya, ada perjalanan panjang Sumobito Jombang – Surabaya yang ia tempuh berulang kali demi mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

“Saya asal Sumobito Jombang, dekat Pondok pondok pesantren yang terkenal. Tiap hari jualan berangkat dari desanya Sumobito sekitar pukul 02.00 dini hari dengan dagangan tahu yang ditaruh didua blek dibonceng motornya, ia sampai di Surabaya pagi hari langsung menjajakan dagangannya” ujar Saiful saat dijumpai di Jalan Bratang Gede, Sabtu (28/02/2026).

Sepeda motornya dilengkapi dua blek satu galon untuk penyimpanan tahu kotak, tahu bulat dan tahu susu dagangannya. Blek terbuat dari seng, dibonceng menempel di bagian kanan dan kiri motornya.

Selain menaiki motornya, sehari-hari, ia menempuh perjalanan lintas kota dengan menyusuri jalan alternatif pedesaan melewati persawahan dan jembatan kali Brantas antara Jombang – Mojokerto – Krian hingga Surabaya. “Sorenya pulang dari Surabaya ke Jombang dengan rute yang sama,” katanya.

Ritme itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Saiful mengaku sudah berjualan tahu 23 tahun lalu sejak masih bujang, bahkan sejak era Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur Waktu itu.

“Awalnya ia berjualan tahu, dulu jualan di Surabaya Barat didaerah Pakis, Putat Gede, putat jaya, Dukuh Kupang, Kembang Kuning Kec Sawahan. Karena Surabaya Barat terlalu jauh maka ia beralih menjajakan tahunya di wilayah Bratang lebih dekat,” katanya.

Tahu yang ia jual bukan hasilnya sendiri. Saiful mengambil setoran tahu dari produsen di Jombang, lalu menjajakannya di Surabaya.

Tahu yang dijual cukup murah untuk tahu kotak Rp 2.500/ biji, tahu susu dan tahu bulat Juga Rp 2.500/bungkus. “Rata – rata tahu yang ia jual harganya Rp 2500,” tuturnya.

Penghasilan Saiful sebagai pedagang tahu keliling juga tak menentu. Kadang dagangannya laris, kadang pas-pasan. Dari setoran tahu yang dibawanya, keuntungan bersih yang ia dapat tak selalu besar cukup untuk membiayai dua anaknya sampai selesai sekolah.

“Tidak masalah, meskipun hasilnya sedikit tetapi barokah dan halal. Daripada banyak tetapi tidak barokah, buat apa,” ungkapnya.

Di usia yang hampir setengah abat, Saiful yang beristrikan asli Bratang Perintis Surabaya masih setia menaiki motornya menembus jarak yang lumayan jauh Sumobito Jombang – Surabaya. “Sampai kapan ia jalani ? hanya Allah SWT yang tahu” ucapnya.

“Di balik tahu dagangannya yang ia jajakan, tersimpan kisah ketekunan, keuletan dan kesederhanaan untuk menopang ekonomi keluarga tercinta agar dapurnya terus tetap mengebul,” pungkas Saiful.  ryo’


 

107

Baca Lainnya