BANGKALAN | klikku.id — Kemelut operasional sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di Kabupaten Bangkalan kembali menjadi sorotan. Sejumlah dapur yang sebelumnya dikabarkan bermasalah, baik karena status operasional, penghentian sementara, maupun dampak pelayanan terhadap penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis atau MBG, mulai mendapat penjelasan dari pihak Satgas MBG Bangkalan.
Ketua Satgas MBG Bangkalan, Bambang Mustika, memberikan tanggapan atas sejumlah informasi yang berkembang di lapangan. Salah satunya terkait dapur SPPG yang berada di Desa Alaskembang, Kecamatan Burneh, yang dikabarkan tidak lagi beroperasi.
Saat dikonfirmasi mengenai penyebab tidak beroperasinya dapur tersebut, Bambang menyampaikan bahwa kondisi itu terjadi karena adanya persoalan internal antara pihak owner dan yayasan pengelola. “Perselisihan antara owner dan yayasan,” terang Bambang saat memberikan keterangan, Jumat (22/5).
Atas kondisi tersebut, Bambang menjelaskan bahwa status dapur SPPG Alaskembang saat ini berada dalam posisi berhenti sementara. Dengan demikian, penghentian operasional dapur tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh persoalan teknis pelayanan makanan, melainkan berkaitan dengan dinamika kelembagaan internal pengelola dapur. “Status berhenti sementara,” jelasnya.
Keterangan tersebut sekaligus menjadi penjelasan awal atas munculnya pertanyaan publik mengenai keberlanjutan layanan MBG dari dapur SPPG Alaskembang kepada para penerima manfaat. Sebab, dalam pelaksanaan program MBG, keberadaan dapur SPPG menjadi salah satu unsur penting yang menentukan kelancaran distribusi makanan bergizi kepada siswa maupun kelompok sasaran lainnya.
Selain Alaskembang, perhatian juga tertuju pada dapur SPPG di Desa Tanah Merah Dajah. Dapur tersebut sebelumnya disebut sempat mengalami persoalan dan menjadi bagian dari dapur yang dipertanyakan status operasionalnya.
Bambang menyampaikan bahwa untuk dapur SPPG Tanah Merah Dajah, status suspend atau penghentian sementara disebut telah dibuka. “Tanah Merah sudah dibuka,” kata Bambang.
Dalam keterangan lanjutan, Bambang juga menegaskan bahwa apabila suspend sudah dibuka, maka persoalan apakah dapur tersebut sudah kembali beroperasi atau belum, lebih tepat dikonfirmasi langsung kepada pihak SPPG atau yayasan pengelola.
“Ini suspend sudah dibuka, masalah operasi atau tidak mending sampean tanyakan penyebabnya ke SPPG atau yayasannya,” ujar Bambang.
Namun, keterangan tersebut berbeda dengan informasi yang disampaikan salah satu lembaga sekolah penerima manfaat dari dapur SPPG Tanah Merah Dajah. Pihak sekolah menyatakan bahwa hingga saat ini mereka sudah lebih dari satu minggu tidak menerima hidangan menu MBG dari dapur SPPG Tanah Merah Dajah.
Menurut keterangan dari salah satu pihak lembaga sekolah penerima manfaat, tidak adanya pengiriman menu MBG tersebut telah berlangsung selama lebih dari sepekan. Kondisi itu membuat pihak sekolah mempertanyakan kepastian kelanjutan layanan makanan bergizi bagi siswa penerima manfaat.
“Sudah lebih dari satu minggu sekolah kami tidak menerima hidangan menu MBG dari dapur SPPG Tanah Merah Dajah,” ungkap salah satu pihak lembaga sekolah penerima manfaat.
Perbedaan antara status administratif dapur yang disebut telah dibuka dengan kondisi pelayanan di lapangan ini memunculkan pertanyaan baru. Sebab, apabila status suspend telah dibuka, publik berharap distribusi menu MBG kepada penerima manfaat juga dapat kembali berjalan normal.
Kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi Satgas MBG Bangkalan untuk melakukan pengecekan ulang terhadap laporan operasional dapur SPPG Tanah Merah Dajah. Terlebih, program MBG menyangkut pemenuhan gizi peserta didik, sehingga keterlambatan atau terhentinya distribusi makanan dapat berdampak langsung terhadap siswa sebagai penerima manfaat.
Selain Tanah Merah Dajah, dapur SPPG yang berkaitan dengan wilayah Blega juga menjadi perhatian. Hal itu menyusul adanya informasi mengenai dapur SPPG yang sebelumnya pernah menyalurkan makanan kepada penerima manfaat di SMAN Blega dan dikaitkan dengan peristiwa dugaan gangguan kesehatan atau keracunan.
Saat ditanya mengenai status dapur SPPG Blega, Bambang sempat meminta penjelasan lebih rinci terkait dapur mana yang dimaksud. “Blega mana?” tanyanya.
Bambang kemudian menyampaikan bahwa apabila hasil laboratorium atas peristiwa tersebut belum keluar, maka status dapur yang berkaitan dengan kasus itu masih berada dalam posisi berhenti sementara.
“Sepertinya hasil lab belum keluar. Jadi kalau belum keluar, statusnya berhenti sementara juga,” terang Bambang.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses evaluasi terhadap dapur yang pernah dikaitkan dengan dugaan gangguan kesehatan penerima manfaat masih bergantung pada hasil laboratorium. Dengan demikian, kejelasan hasil uji lab menjadi bagian penting untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk apakah dapur tersebut dapat kembali beroperasi atau tetap harus menjalani penghentian sementara.
Dalam konteks ini, Satgas MBG Bangkalan diharapkan dapat memastikan bahwa setiap dapur SPPG yang kembali beroperasi telah melalui proses evaluasi, pembenahan, serta pemenuhan standar layanan. Mulai dari aspek higienitas dapur, kelayakan menu, proses pengolahan makanan, distribusi, hingga koordinasi dengan sekolah penerima manfaat.
Program MBG sendiri merupakan program strategis yang menyasar pemenuhan gizi peserta didik. Karena itu, setiap kendala pada dapur SPPG tidak hanya berdampak pada pengelola, tetapi juga langsung menyentuh hak penerima manfaat, terutama siswa yang menjadi sasaran layanan makanan bergizi.
Kemelut status sejumlah dapur SPPG di Bangkalan ini menjadi catatan penting bagi Satgas MBG, pemerintah daerah, yayasan, owner, maupun seluruh unsur pengelola program. Transparansi informasi, kecepatan penanganan masalah, serta kesesuaian antara laporan administratif dan fakta lapangan menjadi kunci agar program MBG tetap berjalan baik dan mendapat kepercayaan masyarakat.
Publik pun berharap Satgas MBG Bangkalan dapat memberikan pembaruan informasi secara terbuka, terutama terhadap dapur yang berstatus berhenti sementara, dapur yang disebut suspend-nya sudah dibuka namun belum kembali menyalurkan MBG, serta dapur yang pernah dikaitkan dengan peristiwa dugaan gangguan kesehatan penerima manfaat.
Dengan demikian, pelaksanaan program MBG di Bangkalan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa dan lembaga pendidikan penerima layanan.
#Anam
