JAKARTA || klikku.id — Aktivisme di organisasi kemahasiswaan tidak selalu berhenti pada dinamika internal kampus. Bagi Abdullah Amas, pengalaman berproses di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) justru menjadi ruang untuk membangun jejaring, mengasah keberanian berkomunikasi dengan elite, sekaligus memperjuangkan kebutuhan organisasi.
Salah satu pengalaman yang masih diingat Amas terjadi ketika dirinya berhadapan langsung dengan Anas Urbaningrum, yang kala itu menjabat Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR-RI.
Peristiwa tersebut berlangsung di lorong Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan. Saat itu, Amas yang masih berstatus mahasiswa dan kader HMI nekat mencegat langkah Anas di dekat lift menuju ruang Fraksi Partai Demokrat di lantai 9.
Meski tengah sibuk dan sejumlah tamu telah menunggu, Anas justru merespons keberanian Amas dengan cara yang mencairkan suasana.
“Ini ada Kyai, jadi didahulukan,” ujar Anas kala itu, merujuk pada Amas yang datang mengenakan atribut almamater hijau-hitam HMI.
Amas kemudian dipersilakan masuk lebih dahulu. Bagi Amas, pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana keberanian membuka komunikasi dapat menjadi pintu membangun jejaring di tingkat nasional.
Pengalaman serupa juga pernah dilakukan Amas ketika berusaha bertemu M.S. Kaban, yang pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat Menteri Kehutanan Republik Indonesia.
Amas mengaku pernah menunggu Kaban selama berjam-jam di kantor Kementerian Kehutanan. Ia datang sejak pagi dan bertahan hingga siang, bahkan sampai sore menjelang azan Maghrib.
Penantiannya tersebut, menurut Amas, bukan untuk kepentingan pribadi. Ia tengah memperjuangkan dukungan logistik dan pembiayaan bagi kegiatan HMI pada tingkatan struktur organisasi yang saat itu diikutinya.
Bagi Amas, menemui pejabat, tokoh politik maupun figur berpengaruh merupakan bagian dari proses membangun kepercayaan dan memperkenalkan kapasitas diri.
“Jejaring nasional bukan sekadar deretan nomor kontak di buku harian atau gawai,” demikian gambaran Amas mengenai cara pandangnya terhadap jaringan yang dibangun selama berproses di organisasi.
Menurutnya, jejaring harus dirawat melalui komunikasi, konsistensi perjuangan dan keberanian menyampaikan gagasan.
Dalam perjalanan berikutnya, Amas menyebut dirinya semakin banyak dikenal sejumlah tokoh nasional. Ia mengaitkan salah satu fase perjalanan tersebut dengan pengamalan Pesan Al-Mubasyirat Muhammad Qasim, yang menurut pengakuannya turut menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan pengembangan dirinya.
Namun, kapasitas Amas di mata sejumlah tokoh nasional juga tidak hanya dibangun melalui satu momentum. Ia menyebut pernah berhubungan baik dengan sejumlah figur nasional, antara lain Agung Mozin, Prof. Yusril Ihza Mahendra, Khofifah dan sejumlah tokoh lainnya.
Amas juga menyebut Prof. Yusril Ihza Mahendra beberapa kali mengunggah tulisan artikel yang dibuatnya. Hal itu, bagi Amas, menjadi salah satu bentuk apresiasi sekaligus ruang komunikasi intelektual yang terbangun dari jejaring yang telah dirawat.
Dari pengalaman panjangnya di dunia aktivisme, Amas memiliki pandangan tersendiri mengenai posisi seseorang dalam membangun pengaruh dan jejaring elite.
Ia menyebut terdapat tiga tingkatan “pengolah” dalam dunia aktivisme.
Pertama, ketua, yakni mereka yang telah berhasil mencapai posisi kepemimpinan dan memiliki ruang menentukan arah.
Kedua, tangan kanan, seperti staf ahli atau orang-orang yang berada dekat dengan pengambil keputusan dan membantu mengolah gagasan maupun kebijakan.
Sedangkan tingkatan ketiga adalah pasukan, yakni anggota atau kader yang masih berada pada tahap belajar, mengikuti proses dan mengasah kemampuan.
Bagi Amas, perjalanan aktivisme bukan semata-mata soal mengejar jabatan. Lebih jauh, proses tersebut merupakan arena membangun kepercayaan.
Keberanian menemui tokoh nasional, bertahan menunggu pejabat berjam-jam hingga memperkenalkan gagasan kepada para pengambil kebijakan, menurutnya, merupakan bagian dari “olah-olah” seorang aktivis dalam membangun kapasitas dan jejaring.
Dari lorong Gedung Nusantara I hingga ruang tunggu Kementerian Kehutanan, pengalaman tersebut menjadi potongan perjalanan Amas ketika masih aktif di HMI—sebuah fase yang kemudian menjadi bagian dari cerita panjangnya dalam mengenal, berkomunikasi dan membangun hubungan dengan sejumlah tokoh di tingkat nasional.
#KLIKKU.ID ANAM
