SURABAYA | klikku.id – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menyiapkan 15.000 bibit mangrove untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir Surabaya.
Saat ini, bibit tersebut masih dalam proses pembudidayaan di area konservasi mangrove TPS dan diproyeksikan siap ditanam sekitar delapan bulan mendatang.
Program yang dijalankan bersama Kelompok Petani Mangrove Penggerak Konservasi Mandiri Lestari Sontoh Laut Surabaya itu merupakan bagian dari upaya perusahaan menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, mengatakan konservasi mangrove telah menjadi bagian dari program lingkungan perusahaan sejak 2010. Upaya tersebut berjalan beriringan dengan elektrifikasi peralatan bongkar muat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
“Sebagai bagian dari Pelindo Group, TPS berkomitmen menghadirkan operasional pelabuhan yang semakin hijau dan berkelanjutan. Upaya elektrifikasi alat bongkar muat serta konservasi mangrove merupakan strategi yang saling mendukung dalam upaya pengurangan emisi karbon,” ujarnya.
Menurut Erika, program pembibitan tidak sekadar berorientasi pada penanaman pohon, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. Kelompok petani terlibat dalam pengadaan bibit, pemeliharaan, pembesaran, hingga penanaman mangrove.
Setelah mencapai usia tanam sekitar delapan bulan, bibit tersebut direncanakan didistribusikan kepada sejumlah pihak untuk mendukung rehabilitasi pesisir Surabaya.
Hasil pengukuran manfaat program mangrove TPS bersama Cempaka Foundation pada 2026 menunjukkan kawasan konservasi tersebut memiliki keanekaragaman hayati tinggi, dengan kondisi vegetasi yang tergolong baik dan padat.
Kawasan mangrove juga berfungsi sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna, termasuk burung migran dan satwa yang dilindungi.
Dari sisi lingkungan, ekosistem ini membantu melindungi pantai dari abrasi, menjaga habitat biota laut, serta menyerap karbon.
Pengukuran yang dilakukan TPS mencatat kemampuan penyerapan karbon sebesar 623,11 ton karbon per hektare, setara dengan 2.286,8 ton karbon dioksida (CO₂) per hektare.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator kontribusi kawasan konservasi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Erika menegaskan, keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Dampak terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat juga menjadi bagian penting dari program tersebut.
TPS berharap perluasan penanaman mangrove dapat memperkuat ketahanan pesisir Surabaya sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang. AM@n
