Jakarta | klikku.net – Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), sekaligus Ketua Umum Pergizian Pangan Indonesia, Prof. Dr. Hardiansyah, M.S mengatakan, anak usia satu tahun ke atas, boleh mengonsumsi mi instan untuk mengenal beragam cita rasa.
“Jika anak-anak tidak dikenalkan cita rasa. Nanti dia jadi nggak mengenal cita rasa Indonesia,” ujarnya di Jakarta, mengutip ANTARA, Sabtu (29/4).
Ia mengatakan, industri mi Indonesia memiliki kemasan, rasa, maupun kandungan gizi yang berbeda, dibandingkan mi asal luar negeri. Sehingga produk lokal lebih aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak, asal tidak berlebihan.
“Saya rasa industri mi Indonesia itu mengenalkan banyak cita rasa makanan lokal. Ada cita rasa ayam geprek, rendang, dan lain-lain. Jadi selagi tidak berlebihan dan tidak monoton, nggak apa-apa,” imbuhnya.
Hardiansyah menjelaskan hal yang mendasari keamanan kandungan gizi di mi instan produk Indonesia adalah, bahan baku terigu untuk produk lokal yang wajib mengandung zat besi, asam folat, B1, B2 dan zinc.
“Kalau mi kita di dalam negeri, itu ditambahkan karena memang pemerintah mewajibkan semua terigu yang beredar di Indonesia dan diolah, diperkaya dengan zat besi, asam folat, B1, B2 dan zinc. Jadi bukan sembarang terigu yang beredar di Indonesia,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kepala Instalasi Gizi dan Produksi Makanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Fitri Hudayani, SST., S.Gz, MKM, RD turut mengingatkan, bahwa bumbu yang terdapat pada mi instan cenderung tajam untuk rasa asin dan gurih.
Jika terlebih dulu mengenal rasa ini, maka dikhawatirkan anak-anak kurang menyukai masakan rumahan lainnya.
“Jika sudah terlebih dahulu mengenal rasa yang asin dan gurih yang lebih tinggi. Dikhawatirkan makanan rumahan lainnya menjadi kurang disukai. Saran saya, kurangi porsi bumbu atau lebih baik membuat bumbu sendiri,” pungkas Fitri. @Nto tze
