Opini

Rabu, 16 April 2025 - 16:28 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Ketika AI Mengubah Dunia Investasi: Antara Peluang dan Kewaspadaan

Surabaya | klikku.id – Di era digital saat ini, dunia investasi telah mengalami banyak perubahan sedemikian cepat dibanding sebelumnya.

Munculnya Artificial Intelligence (AI), robo-advisors, dan teknologi blockchain telah membawa revolusi senyap secara perlahan tapi pasti menggantikan cara lama dalam mengambil keputusan di bidang finansial.

Haryanto Tanuwijaya Dosen Manajemen, Universitas Dinamika Surabaya menyampaikan teknologi saat ini bukan sekadar tren, namun sudah menjadi bagian dari ekosistem global di bidang finansial.

Tanpa disadari, saat seseorang membuka aplikasi investasi di ponsel, kemudian membaca dan mempelajari rekomendasi saham, atau sekedar menonton video soal analisis kripto, di situlah AI sedang bekerja.

Di masa lalu, seorang investor yang handal mengandalkan pengalaman, naluri, dan kesabaran. Hal itu disebabkan keterbatasan manusia membaca data yang banyak.

“Sekarang AI dapat menganalisis data pasar yang sangat besar yang disebut big data, mengalisis sentimen publik di media sosial, menggambarkan pola atau tren, hingga menghasilkan laporan keuangan hanya dalam hitungan detik,” ujar Haryanto dalam keterangannya Rabu (16/ 4/2025).

Dengan High-Frequency Trading (HFT), AI menggunakan algoritma machine learning untuk memprediksi tren harga saham, mengatur portofolio, dan dapat melakukan transaksi secara otomatis. Hasilnya, AI mampu memproses data jauh lebih cepat dibandingkan manusia.

Mesin-mesin super cepat tersebut bekerja dibalik layar pada saat melakukan pembelian dan penjualan saham dalam waktu milidetik sehingga mampu menghasilkan keuntungan selisih harga sekecil berapapun dengan kuantitas yang besar.

Dapatkah AI diandalkan? Dari paparan di atas, sekilas terkesan bahwa teknologi AI terlihat sempurna dan dapat diandalkan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa teknologi memang hebat, tapi belum sempurna.

Bagaimanapun, AI tetaplah tools belaka yang bekerja dan menjadi canggih tergantung pada data yang diinputkan padanya. Di dunia TI ada istilah: “Garbage in, garbage out.” Artinya, apabila data yang dimasukkan sampah atau salah, maka hasil analisis AI juga akan salah atau menyesatkan.

Hal tersebut telah terbukti pada saat pandemi COVID-19 melanda di awal 2020. Hampir semua model AI gagal memprediksi dampaknya terhadap pasar global. Mengapa?

Jawabannya tidak lain tidak bukan, karena tidak ada data historis yang serupa pandemi COVID-19 yang terjadi awal 2020 sehingga AI tidak mampu memperoleh data masukan apa yang telah pernah terjadi dan pada akhirnya gagal memprediksi dampaknya.

Masih kata Haryanto bukan hanya itu, AI juga sangat rentan terhadap manipulasi data. Apabila seseorang dengan maksud tertentu menyebarkan berita palsu di media sosial, maka hal tersebut dapat memicu algoritma pada AI reaksi secara otomatis melakukan penjualan besar-besaran berakibat timbulnya flash crash di pasar saham sebagaimana terjadi pada tahun 2010 ketika indeks Dow Jones tiba-tiba anjlok lebih dari 1.000 poin hanya dalam beberapa menit.

Mengutip apa yang dikatakan Albert Einstein, “The human spirit must prevail over technology.” Dalam dunia investasi, apa yang dikatakan Albert Einstein bermakna bahwa manusia harus tetap jadi pengendali, bukan sekadar penonton yang bergantug sepenuhya pada mesin dengan algoritmanya.

Bagi investor pemula, kemunculan robo-advisors seperti Bibit, Ajaib, Betterment, dan Wealthfront memang sangatlah membantu. Robo-advisors memungkinkan siapa pun memulai investasi hanya dengan beberapa klik dan modal minim. Tools ini dapat secara otomatis menyusun portofolio sesuai dengan profil risiko penggunanya.

Namun, yang harus diingat, robo-advisors tetaplah robot. Mereka tidak punya intuisi, tidak bisa membaca dinamika sosial politik, dan tentu tidak bisa memahami tujuan hidup pribadi manusia.

Bisa saja pada saat pasar sedang panik, algoritma justru menyarankan kita menjual, padahal itulah saat terbaik untuk membeli.


Ryo

98

Baca Lainnya