Daerah Pemerintahan

Sabtu, 12 Juli 2025 - 11:22 WIB

12 bulan yang lalu

logo

Perempuan Jadi Pilar Keluarga, Bangga Kencana Siap Cetak Generasi Emas Bebas Stunting di Madiun

Madiun | klikku.id — Pemerintah terus memperkuat langkah menuju Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan kualitas keluarga.

Salah satunya ditunjukkan lewat Program Bangga Kencana yang digelar di Gedung Diklat Kota Madiun, Sabtu (12/7/2025), dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pusat hingga daerah.

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol Admin, hadir langsung dan memberikan pesan kuat tentang peran penting masyarakat, khususnya perempuan, dalam menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan unggul.

“Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi. Itu hanya bisa dicapai bila seluruh rakyat bergerak bersama. Dan peran perempuan, terutama sebagai ibu, adalah tiang negara yang harus sadar betul akan tanggung jawab itu,” ujar Prof. Budi.

Ia menegaskan bahwa masalah stunting menjadi hambatan besar dalam mencetak SDM berkualitas. Anak-anak yang tumbuh dengan gizi buruk berisiko tertinggal secara fisik, pendidikan, bahkan sosial, sehingga sulit berkontribusi maksimal di masa produktifnya.

Untuk mengatasinya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo menyasar ibu hamil, menyusui, dan balita non-PAUD, sebagai bentuk intervensi gizi sejak dini.

“Kalau ada ibu hamil belum terdata, laporlah ke kader atau Tim Pendamping Keluarga. Itu hak mereka, demi masa depan anak bangsa,” tegasnya.

Selain program nasional, masyarakat Madiun juga mengembangkan inisiatif lokal bernama Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang didanai secara swadaya untuk menjangkau keluarga yang belum tersentuh bantuan APBN.

Kepala Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Dra. Maria Ernawati, MM, menyebutkan bahwa kolaborasi multisektor seperti ini menjadi kekuatan nyata dalam mencegah stunting.

Ia juga memperkenalkan platform digital www.siapbahagia.com, yang menjadi ruang konsultasi terbuka seputar kesehatan keluarga, parenting, hingga gizi.

“Di platform itu, masyarakat bisa tanya langsung ke dokter, psikolog, bahkan sosiolog. Ini layanan gratis yang bisa dimanfaatkan siapa pun,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang bekerja hingga tingkat desa berdasarkan Perpres No. 72 Tahun 2021, dengan data akurat by name by address untuk intervensi tepat sasaran sejak masa kehamilan hingga 2 tahun pertama kehidupan anak.

Dalam pengalamannya di Sulawesi Tengah, Ernawati menyampaikan bahwa tingginya angka stunting bukan semata soal kemiskinan.

“Banyak makan ikan, tapi mie instan tetap dianggap makanan bergizi utama. Ikan hanya topping. Ini salah kaprah. Maka edukasi gizi jauh lebih penting daripada sekadar memberi makanan,” ungkapnya.

Ia menekankan perlunya klasterisasi penyebab stunting, apakah karena kemiskinan, pola asuh, sanitasi, atau faktor medis. Dengan diagnosis yang tepat, intervensi pun akan lebih efektif.

Acara ini melibatkan pejabat daerah, kader, organisasi perempuan, hingga tokoh masyarakat. Mereka semua menyuarakan komitmen yang sama: perempuan adalah garda terdepan dalam perubahan sosial dan kesehatan keluarga.

“Bangga Kencana bukan sekadar program birokrasi. Ini gerakan sosial yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan. Jika semua bergerak bersama, Indonesia Emas 2045 bukan lagi cita-cita, tapi kenyataan,” tutup Ernawati. @Man


 

103

Baca Lainnya