Pendidikan

Kamis, 21 Agustus 2025 - 16:29 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Dari Papua ke Surabaya, Yustina Gemilang Temukan Makna Jadi Guru Sejati

Surabaya | klikku.id – Senyumnya ramah, sorot matanya teduh, tutur katanya lembut. Itulah kesan pertama dari Yustina Gemilang, S.Pd., Gr.

Seorang pendidik muda yang baru saja resmi dilantik sebagai guru profesional melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (21/9/2025).

Perjalanan hidupnya tidak biasa. Lahir di Surabaya, 7 Juni 1998, Gemilang menemukan panggilan hidupnya justru di pedalaman Papua. Saat mengajar di SD YAPELIN Ob Anggen Dogobak, Kabupaten Mamberamo Tengah, ia menyadari keterbatasan diri.

“Saya merasa ilmu dan keterampilan saya belum cukup untuk menjawab kebutuhan anak-anak di pedalaman,” kenangnya.

Tekad itu yang membawanya kembali ke Surabaya. Kesempatan emas datang ketika ia ditawari mengikuti PPG Prajabatan di Unusa. Setelah melewati serangkaian seleksi, ia dinyatakan lolos.

“Ini jawaban Tuhan sekaligus peluang berharga untuk melengkapi diri sebagai guru,” tutur putri pasangan almarhum Julius Warso Prapto Atmojo dan almarhumah Titin Jamiah tersebut.

Bagi Gemilang, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi. Ia ingin setiap anak merasakan kasih yang mampu mengubah hidup.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan. Saya ingin anak-anak tumbuh berintegritas dan berkarakter,” ujarnya.

Menariknya, meski seorang non-muslim, ia justru banyak belajar nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Unusa. Awalnya hanya dianggap kewajiban akademis, tetapi lama-lama dirasakan relevansinya.

“Nilai tawassuth, tawazun, toleransi, dan keadilan sangat penting untuk hidup berdampingan dalam keberagaman,” jelasnya.

Perjalanan kuliahnya tak mulus. Ia harus membagi waktu antara kuliah, tugas, dan magang yang lokasinya cukup jauh. Gemilang bahkan harus bangun pagi untuk menempuh perjalanan dengan kereta.

“Saya belajar disiplin, membuat prioritas, dan menjaga semangat bahwa perjuangan ini berdampak besar untuk masa depan,” katanya.

Dalam perjalanan akademiknya, Gemilang terinspirasi dari sosok Mrs. Magdalena, Dekan FKIP Universitas Kristen Petra.

“Beliau penuh kasih dan peduli. Dari beliau saya belajar bahwa kepemimpinan sejati lahir dari hati yang tulus,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Kini, setelah resmi dilantik sebagai guru profesional, perasaan haru dan syukur menyelimuti dirinya. “Momen ini adalah bukti perjalanan panjang penuh doa dan perjuangan. Saya siap memasuki babak baru sebagai guru yang mengajar dengan hati,” ucapnya dengan senyum hangat.

Pesannya sederhana, tapi dalam. “Setiap anak adalah pribadi berharga. Mengajar bukan hanya soal materi, tetapi tentang menyentuh hati. Benih yang kita tanam mungkin tidak langsung terlihat, tetapi suatu saat mereka akan tumbuh menjadi generasi emas bangsa,” pungkasnya.

Dari Papua hingga Surabaya, kisah Yustina Gemilang menjadi bukti bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal transfer ilmu, melainkan perjalanan hati untuk menyalakan harapan. @Man


 

144

Baca Lainnya