Pendidikan

Kamis, 21 Agustus 2025 - 18:29 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Belajar Toleransi di Unusa, Johsua Pole Bertekad Membangun Pendidikan Timur Indonesia

Surabaya | klikku.id – Dari sebuah kota kecil di Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, langkah Johsua Indra Kurniawan Pole membawanya merantau jauh ke Surabaya.

Ia tak pernah menyangka, penempatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) justru membuka pintu pengalaman hidup yang tak terlupakan.

Awalnya Johsua tidak mengenal Unusa. Namun begitu mendapat penempatan, ia mulai mencari tahu. Fakta bahwa mayoritas mahasiswa Unusa beragama Islam sama sekali tidak membuatnya gentar.

“Sejak awal saya justru merasa sangat nyaman. Teman-teman banyak membantu dan merangkul saya. Perbedaan bukan penghalang dalam bergaul,” ujar pria kelahiran Tentena, 23 April 1999 itu.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mengikuti mata kuliah Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah). Dari situlah ia mendapatkan perspektif baru tentang nilai kasih sayang, disiplin, dan toleransi dalam Islam.

“Saya lihat teman-teman muslim disiplin sekali dalam mengatur waktu, terutama untuk salat. Itu membuat saya belajar banyak tentang makna toleransi,” katanya.

Ada pula momen lucu yang masih ia kenang. Saat ujian Aswaja, Johsua justru mendapat nilai lebih tinggi dari teman-temannya.

“Mereka dapat 96, saya 98. Mereka langsung sorak-sorai. Bahkan ketika saya pertama kali menulis huruf Arab, mereka bilang tulisan saya bagus. Hal-hal kecil seperti itu bikin saya merasa diterima,” ungkapnya sambil tersenyum.

Di balik cerita akademiknya, Johsua menyimpan mimpi besar. Meski lahir dari keluarga sederhana, ayah dan ibunya hanya lulusan SMK, ia ingin pulang dan membangun pendidikan di Poso. Kondisi pendidikan di daerah asalnya yang masih jauh tertinggal membuatnya semakin bersemangat.

“Saya merantau ke Jawa untuk belajar bagaimana sistem pendidikan di sini, supaya kelak bisa diterapkan di Poso,” tegas anak kedua dari empat bersaudara itu.

Program PPG di Unusa menurutnya bukan sekadar formalitas untuk menjadi guru profesional. Lebih dari itu, program ini memperkaya wawasannya, memperluas jaringan, dan mengasah karakternya sebagai pendidik yang menghargai keberagaman.

“Saya belajar kebersamaan, disiplin, dan bagaimana siap menjadi guru profesional. Semua pengalaman ini akan saya bawa pulang untuk anak-anak di timur Indonesia,” katanya.

Bagi Johsua, profesi guru adalah panggilan hati. Ia percaya pendidikan adalah kunci untuk memajukan bangsa, termasuk di wilayah timur yang masih membutuhkan perhatian lebih.

“Saya ingin jadi bagian dari perubahan itu. Melalui pendidikan, saya ingin anak-anak di Poso punya kesempatan yang sama untuk maju,” ucapnya penuh optimisme.

Dari Tentena ke Surabaya, kisah Johsua Pole menjadi pengingat bahwa semangat membangun negeri bisa lahir dari ruang kelas yang sederhana, dan bahwa perbedaan justru bisa menjadi sumber kekuatan untuk melangkah bersama. @Man


 

99

Baca Lainnya