Oleh: Syaiful Anam, S.Pd (Ketua Perkumpulan Jurnalis Bangkalan)
Bangkalan | klikku.id— Akhir tahun selalu datang tanpa banyak bertanya. Ia menutup lembar demi lembar waktu, meninggalkan jejak yang tak selalu rapi. Bagi insan pers, akhir tahun bukan hanya tentang angka dan arsip berita, melainkan tentang kejujuran sejauh mana kita tetap setia pada kebenaran.
Sepanjang 2025, pers Bangkalan telah berjalan di banyak lorong. Ada lorong terang yang dipenuhi apresiasi, namun lebih sering lorong sunyi yang sarat tekanan. Di sanalah jurnalisme diuji. Bukan pada seberapa ramai sebuah berita dibaca, melainkan pada keberanian untuk tetap menulis meski risiko menghadang.
Pers tidak diciptakan untuk menyenangkan kekuasaan. Ia lahir untuk mengingatkan. Ketika kekuasaan lupa pada rakyat, pers seharusnya hadir sebagai suara yang mengganggu kenyamanan. Sebab demokrasi yang sehat selalu membutuhkan suara yang berani tidak populer.
Memasuki 2026, tantangan pers kian berat. Arus informasi semakin liar, hoaks berbaur dengan fakta dan kecepatan sering dijadikan ukuran kebenaran. Dalam situasi seperti ini, jurnalis dituntut lebih dari sekadar cepat ia harus jujur, teliti dan bertanggung jawab. Berita yang benar memang tidak selalu viral, tetapi ia akan selalu relevan.
Solidaritas sesama jurnalis menjadi pondasi yang tidak boleh runtuh. Perbedaan media, platform dan sudut pandang seharusnya memperkaya, bukan memecah. Ketika satu jurnalis dibungkam atau diintimidasi, sesungguhnya yang sedang dilukai adalah hak publik untuk mengetahui kebenaran.
Kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan, pers bukan lawan. Kritik bukan serangan, melainkan alarm. Dan alarm hanya dibenci oleh mereka yang enggan terbangun dari zona nyaman. Keterbukaan dan kejujuran adalah prasyarat bagi kepercayaan publik.
Tahun boleh berganti, teknologi boleh berubah, tetapi keberpihakan pers tidak boleh goyah. Pers harus tetap berdiri di sisi rakyat kecil, pada mereka yang suaranya kerap tenggelam oleh hiruk-pikuk kekuasaan dan kepentingan.
Kami mungkin hanya pejalan. Namun selama jalan kebenaran masih ada, kami akan terus melangkah. Tidak untuk hanya sekedar menjadi pahlawan, tetapi untuk memastikan bahwa nurani publik tetap menyala.
