Ekonomi Bisnis Nasional

Sabtu, 10 Januari 2026 - 13:28 WIB

4 bulan yang lalu

logo

OJK Yakinkan 2026 Tetap Aman: Meski Gejolak Global Menguat, Stabilitas Keuangan RI Tetap Terjaga

JAKARTA| klikku.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional berada dalam kondisi terjaga menghadapi prospek tahun 2026.

Penilaian tersebut merupakan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada akhir 2025, yang dirilis oleh Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, Sabtu (10/1).

OJK mencatat, perekonomian global menunjukkan tanda perbaikan, meski kinerja ekonomi Tiongkok masih di bawah ekspektasi. Aktivitas manufaktur dunia tetap berada di zona ekspansi, namun lajunya melambat seiring turunnya kepercayaan konsumen global.

Sejumlah lembaga multilateral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2026 masih cenderung melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi, dipengaruhi meningkatnya risiko fiskal negara-negara utama.

Di Amerika Serikat, Produk Domestik Bruto kuartal III-2025 tumbuh 4,3 persen (saar)—lebih tinggi dari kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar. Kinerja ini didorong konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta investasi terkait kecerdasan buatan.

Pasar tenaga kerja mulai moderat, sementara inflasi November 2025 turun ke 2,7 persen dengan inflasi inti 2,6 persen, lebih rendah dibanding Oktober.

Sebaliknya, Tiongkok masih menghadapi perlambatan. Konsumsi rumah tangga tertahan, PMI manufaktur kembali masuk zona kontraksi, dan tekanan sektor properti belum mereda.

Kondisi tersebut memicu beragam respons bank sentral: The Federal Reserve memangkas FFR 25 bps pada Desember 2025; Bank of England juga memangkas suku bunga ke 3,75 persen untuk keempat kalinya sepanjang 2025.

Sementara Bank of Japan justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi tiga dekade terakhir akibat tekanan inflasi yang persisten.

Perbedaan arah kebijakan moneter itu menggoyang pasar global. Saham dunia cenderung menguat merespons pemangkasan FFR, meski muncul kekhawatiran gelembung di saham teknologi. Kenaikan suku bunga Jepang menekan pasar obligasi pemerintah global seiring meredupnya praktik carry trade.

Di awal 2026, pelaku pasar juga mencermati eskalasi geopolitik Venezuela dan dampaknya terhadap stabilitas pasar keuangan.

Di dalam negeri, Desember 2025 mencatat kenaikan inflasi inti, sementara sektor manufaktur tetap ekspansif. Kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan masih surplus, menjadi bantalan penting menjaga ketahanan sektor keuangan memasuki 2026. AMan


 

134

Baca Lainnya