Ekonomi Bisnis Nasional

Kamis, 11 Juni 2026 - 08:48 WIB

19 jam yang lalu

logo

Ambil Langkah Darurat, BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50 Persen untuk Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

JAKARTA | klikku.id – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate, sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada Selasa (9/6/2026), sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan global yang berdampak pada nilai tukar rupiah.

Selain BI Rate, suku bunga Deposit Facility turut naik menjadi 4,50 persen, sedangkan Lending Facility menjadi 6,25 persen.

Bank sentral menilai gejolak ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah dan tingginya harga energi telah memicu tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk mendorong keluarnya dana investasi portofolio asing dari Indonesia.

Dalam evaluasinya, BI mencatat pergerakan rupiah lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri serta berlanjutnya arus keluar modal asing.

Untuk memperkuat daya tarik investasi dan menjaga stabilitas rupiah, BI juga menyiapkan sejumlah langkah tambahan. Salah satunya dengan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada tenor 6, 9, dan 12 bulan agar lebih kompetitif dibanding instrumen serupa di negara lain.

Tak hanya itu, BI memberikan insentif berupa penurunan biaya hedging swap bagi investor asing sebesar 10 persen guna mendorong masuknya kembali dana asing ke pasar domestik.

Dari sisi likuiditas, BI membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3 hingga 12 bulan bagi perbankan.

Kebijakan ini ditujukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang tetap memadai dan menjaga pertumbuhan uang primer berada di atas 10 persen.

Operasi moneter juga akan diperkuat melalui penambahan frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali dalam sepekan serta peningkatan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, DNDF, maupun NDF di pasar luar negeri.

BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah. Terutama dalam sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, guna menjaga stabilitas makroekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Menurut BI, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan memiliki daya tahan yang baik menghadapi berbagai tekanan eksternal. AM@n


 

27

Baca Lainnya