Daerah Ekonomi Bisnis Lifestyle

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:24 WIB

10 jam yang lalu

logo

Dok gambar foto KLIKKU.ID ANAM Biro BANGKALAN.

Dok gambar foto KLIKKU.ID ANAM Biro BANGKALAN.

Profil Abdullah Amas, Tokoh Muda Bangkalan yang Dorong Industrialisasi di Madura

BANGKALAN | klikku.id  — Nama Abdullah Amas kembali menjadi perhatian publik seiring mengemukanya pembahasan mengenai rencana industrialisasi di Bangkalan dan Madura. Tokoh muda asal Bangkalan tersebut menyatakan kesiapannya ikut mendorong sosialisasi pentingnya industrialisasi kepada masyarakat, termasuk kalangan kiai kampung, tokoh pemuda dan berbagai elemen masyarakat lainnya.

Bagi Amas, industrialisasi tidak semata-mata berbicara mengenai pembangunan kawasan industri dan masuknya investasi, tetapi juga menyangkut bagaimana potensi ekonomi Madura dapat dikembangkan sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Sikap tersebut menempatkan Amas sebagai salah satu figur yang ikut mengambil posisi dalam perdebatan publik mengenai arah pembangunan ekonomi Madura.

Jejak Amas di dunia aktivisme terbilang panjang. Sejumlah catatan digital mencatat dirinya pernah aktif di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), termasuk sebagai Wakil Sekretaris HMI Cabang Bangkalan dan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar HMI pada periode 2013–2015.

Ia juga tercatat pernah beraktivitas di KNPI, KOSGORO 1957, KAHMI Preneur serta sejumlah organisasi kepemudaan lainnya. Salah satu pemberitaan tahun 2016 mencatat Amas ketika menjabat sebagai Ketua DPD Barisan Muda KOSGORO 1957 Bangkalan.

Dalam perjalanan politiknya, Amas juga pernah tercatat sebagai Wakil Bendahara Umum Pemuda Partai Bulan Bintang (PBB) Pusat. Pada 2026, sejumlah pemberitaan kembali menyebut posisi dan aktivitasnya dalam dinamika politik PBB serta lingkungan politik Islam.

Nama Abdullah Amas juga pernah muncul dalam catatan aktivitas gerakan kepemudaan di Jawa Timur. Ia disebut pernah memimpin aksi di kawasan Suramadu pada 2014.

Selain isu kepemudaan dan politik, Amas disebut konsisten menyuarakan agar keberadaan dan pengelolaan sumber daya minyak dan gas di wilayah West Madura Offshore (WMO) dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi Bangkalan dan masyarakat Madura.

Persoalan tersebut menjadi bagian dari narasi panjang Amas mengenai pentingnya sumber daya daerah tidak hanya dilihat dari sisi investasi, tetapi juga dari perspektif kebermanfaatan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dalam sejumlah aktivitasnya, Amas juga dikenal memiliki jejaring dengan berbagai kelompok organisasi, media dan tokoh politik. Beberapa tulisan dan gagasannya bahkan pernah muncul dalam ruang komunikasi digital yang berkaitan dengan Prof. Yusril Ihza Mahendra.

Pada 2026, misalnya, Amas kembali menyoroti dinamika Partai Bulan Bintang setelah perubahan kepemimpinan di tubuh partai tersebut. Jejak pemberitaan itu menunjukkan bahwa aktivitas Amas tidak hanya berpusat di Bangkalan, tetapi juga menjangkau ruang politik nasional.

Di luar aktivitas organisasi dan politik, Amas juga dikenal aktif mengangkat sejumlah gagasan keumatan. Salah satu isu yang pernah dikonsolidasikannya berkaitan dengan narasi Al-Mubasyirat atau mimpi Muhammad Qasim.

Dalam sejumlah pernyataannya, Amas mengaitkan beberapa perkembangan geopolitik dengan narasi yang disebutnya sebagai bagian dari mimpi tersebut.

Namun, berbagai prediksi atau tafsir mengenai mimpi dan peristiwa geopolitik tersebut merupakan pandangan atau narasi yang disampaikan oleh pihak-pihak yang mempercayainya, bukan fakta ilmiah atau kepastian mengenai masa depan. Karena itu, substansi tersebut perlu ditempatkan secara proporsional dalam ruang diskusi publik.

Kehidupan pribadi Amas juga beberapa kali menjadi bagian dari pembicaraan publik, termasuk terkait kehidupan rumah tangganya. Sejumlah klaim mengenai status perkawinan dan latar belakang keluarganya beredar dalam narasi mengenai dirinya.

Namun, aspek kehidupan pribadi tersebut tidak berkaitan langsung dengan kapasitas maupun gagasannya mengenai industrialisasi Madura sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menjadikannya sebagai ukuran terhadap kiprah publik seseorang.

Yang lebih relevan untuk dicermati adalah rekam jejak organisasi, gagasan, jaringan komunikasi serta sikap Amas terhadap isu pembangunan Madura.

Dalam konteks perkembangan rencana industrialisasi di Bangkalan, Amas menyatakan siap ikut menyampaikan pentingnya industrialisasi kepada masyarakat secara lebih luas.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat perubahan kawasan Madura menuju wilayah industri berpotensi membawa konsekuensi besar, mulai dari terbukanya lapangan kerja, pertumbuhan UMKM, peningkatan nilai investasi, hingga perubahan sosial dan tata ruang.

Karena itu, sosialisasi kepada masyarakat tidak cukup hanya dilakukan melalui jalur pemerintahan. Keterlibatan tokoh masyarakat, ulama, pemuda, akademisi, organisasi kemasyarakatan dan media juga diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh.

Bagi Amas, industrialisasi idealnya tidak boleh berhenti pada pembangunan kawasan dan masuknya modal. Pertanyaan paling penting adalah seberapa besar masyarakat Madura menjadi penerima manfaat dari perubahan ekonomi tersebut.

Ada pula kisah yang kerap dikaitkan dengan perjalanan Amas sejak usia muda. Ia menyebut pernah mendapat komentar dari Anis Matta, mantan Sekjen PKS dan tokoh politik nasional, ketika dirinya masih duduk di bangku SMA.

Amas mengisahkan bahwa Anis Matta pernah menyampaikan kepadanya, “Di wajahmu ada ciri-ciri orang besar.” Pernyataan tersebut tentu lebih tepat dipandang sebagai kesan personal dalam sebuah pertemuan, bukan sebagai prediksi mengenai masa depan politik seseorang.

Namun, kisah tersebut menjadi bagian dari narasi perjalanan Amas yang kemudian memang memilih jalur aktivisme, organisasi, media dan politik sejak usia muda. Kini, ketika industrialisasi kembali menjadi salah satu isu strategis bagi masa depan Bangkalan dan Madura, posisi Amas menjadi menarik untuk dicermati.

Pengalaman panjangnya di berbagai organisasi dan jejaring politik menjadi modal komunikasi. Namun, tantangan sebenarnya bukan sekadar bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa industrialisasi penting, melainkan bagaimana memastikan pembangunan tersebut berjalan transparan, memberikan ruang bagi masyarakat lokal, membuka kesempatan kerja, menjaga lingkungan serta tidak menggeser kepentingan rakyat.

Dengan demikian, dukungan terhadap industrialisasi seharusnya berjalan beriringan dengan pengawasan publik yang kuat. Madura membutuhkan investasi, tetapi investasi juga membutuhkan legitimasi sosial. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, sementara masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pembangunan tidak hanya menghasilkan angka investasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan.

Dalam konteks itulah, gagasan Amas mengenai pentingnya mensosialisasikan industrialisasi Madura kepada kiai kampung, pemuda dan tokoh masyarakat menjadi bagian dari dinamika yang patut dicermati.

Sebab, masa depan industrialisasi Madura pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang datang membawa investasi, tetapi tentang siapa yang memperoleh manfaat dari perubahan besar tersebut.

#Anam KLIKKU.ID

35

Baca Lainnya