Pendidikan

Rabu, 23 Juni 2021 - 18:37 WIB

5 tahun yang lalu

logo

Pendidikan Dimasa Covid-19, Orang Tua Pintar Siswa Bernilai Tinggi

SURABAYA | klikku.net – Kebijakan tentang Pendidikan di masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19), dengan diputuskan larangan pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah selama dua tahun.

Hal tersebut mengacu kepada SKB 4 Menteri, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri dalam Negeri masing-masing No. 01/KB/2020, No. 516 Tahun 2020, No. Hk.03.01/Menkes/363/2020, dan No. 440-882 Tahun 2020.

Kebijakan ini mengatur penyelenggaraan pembelajaran tetap berjalan dalam masa pandemi dengan mempertimbangkan pembagian zona wilayah yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Namun dengan kebijakan tersebut berpengaruh terhadap kecerdasan para siswa dan siswi terutama yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Mengapa seperti itu? Masa pertumbuhan otak dan moral anak anak lebih dominan dimiliki oleh usia usia dini atau di tingkatan SD.

Meski program program pemerintah di sektor pendidikan dengan cara belajar daring atau melalui aplikasi online gencar diterapkan, namun hal tersebut tidak bisa secara maksimal mengasah kepintaran para siswa.
Peran seorang guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik secara tidak langsung di serah tugaskan kepada orang tua masing masing siswa.

Hal tersebut juga kerap dikeluhkan oleh orang tua siswa, dimana peran orang tua yang sebelumnya hanya sebagai pendamping pembelajaran sang anak, dengan adanya program daring maka peran orang tua menjadi ganda selain pendamping saat belajar namun juga menjadi guru bayangan.

Dari sisi siswa, pembelajaran daring juga sangat melelahkan melebihi pembelajaran tatap muka. Pasalnya pembelajaran daring lebih banyak memberikan tugas yang membebani fisik dan metal mereka. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, maka efek lain bisa saja muncul seperti stres, jenuh, dan pada akhirnya pelajar akan depresi dan tak peduli terhadap tugas yang diberikan.

Pada sistem pembelajaran daring, para pendidik juga banyak mengeluh tidak maksimalnya pendidikan dari sisi afektif, Karakter, kedisiplinan, etika, dan hal-hal menyangkut psikologi anak didik tidak terajarkan dengan baik.

Sedangkan dari sisi kecerdasan siswa dengan adanya pembelajaran daring, ternyata tidak bisa menjadi prioritas bahwa sang siswa tetap secerdas dimasa belajar sebelum masa Covid-19, namun kecerdasan tergantung dari orang tua masing masing siswa.
“Dulu putra saya sebelum pandemi Covid-19 kerap bisa mengerjakan tugas tugas sekolah namun sekarang kerap kesulitan, dan saya sendiri tidak bisa membantu banyak tentang tugas sekolah putra saya, saya sudah lupa pelajaran sekolah dasar, selain itu saya juga repot memasak mencuci dan mengurusi anak anak saya yang lain,” ujar Purniasari warga Mojo, Gubeng.

Fenomena tentang perubahan kecerdasan siswa terutama di tingkatan Sekolah Dasar (SD) pada masa belajar daring berbanding terbalik. Dimana siswa yang dulunya mempunyai kecerdasan yang lumayan bagus, namun berjalanya waktu nilai nilai yang diperoleh menurun, tapi ada juga sebelumnya kecerdasan salah satu siswa bisa dikatakan pas pasan namun dengan adanya belajar daring mempunyai nilai yang cukup tinggi.

“Meski murid atau siswanya gak seberapa pintar, tapi bila orang tuanya banyak waktu lalu mengerti dunia internet ‘Mbah Google, pasti juga anak jadi pintar, pokonya orang tua pintar mencari jawaban di Google pasti anaknya dapat nilai bagus,” ujar Andi salah satu orang tua murid SDN Mojo VII/ 225.

Caption. : Ilustrasi
Reporter : Rus
Editor. : Yanto

45

Baca Lainnya