Pemerintahan Peristiwa

Senin, 27 Desember 2021 - 07:49 WIB

5 tahun yang lalu

logo

Foto : klikku.net Anaf

Foto : klikku.net Anaf

Diduga Kawanan Kera Nepa Krisis Makanan, Disporabudpar Sampang dan Pengelola Saling Tuding

Sampang | Klikku.net – Diduga krisis stok makanan, ratusan kera yang berada di Wisata Hutan Kera Nepa, yang terletak di Desa Batioh, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, sering berkeliaran ke rumah warga.

Pantaun awak media di lokasi, saat pengunjung datang, terlihat ratusan monyet di hutan kera nepa tersebut langsung berkerumun, seakan-akan mengharap secuil makanan. Bahkan saking kelaparannya ada beberapa monyet merampas makanan ringan yang dibawa oleh pengunjung wisata hutan kera nepa. Senin (26/12/2021).

Salah satu juru kunci hutan kera nepa, yang namanya tidak mau dipublikasi menyatakan, makanan untuk kera memang kurang. Pasalnya, jatah tiap bulan hanya dua sak makanan, dan itu tidak cukup.

“Pernah selama 4 bulan tidak ada kiriman stok makanan untuk kera oleh dinas terkait, yani Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar),” tuturnya.

Dirinya khawatir jika terus-terusan kekurangan makanan, kera yang berada di wisata hutan kera nepa itu akan menjadi ganas. Sehingga membahayakan keselamatan wisatawan dan warga sekitar.

“Jika dibiarkan kekurangan makanan, khawatir kera ini akan menjadi ganas, bahkan bisa membahayakan pengunjung dan warga disini,” ungkapnya.

“Semoga hal ini segera diperhatikan, karena hutan kera nepa ini termasuk destinasi wisata unggulan Kabupaten Sampang,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sampang, H Marnilam menjelaskan, kurangnya makanan di Hutan Kera Nepa akibat adanya refocusing anggaran di era pandemi Covid-19.

Bahkan, tak hanya refocusing anggaran yang menjadi sebab kekurangan makanan kera nepa. Pihaknya, menuding pihak pengelola wisata hutan kera nepa tidak menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang.

“Wisata hutan kera nepa itu banyak pengunjungnya. Namun, pengelola (Pemdes Batioh) tidak mau setor Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Kabupaten Sampang,” ungkapnya.

Tak senada, Suud Ali, selaku mantan Kepala Desa Batioh langsung menyangkal tudingan Kepala Disporabudpar Kabupaten Sampang.

Ia mengatakan, bahwa selama 4 tahun, terhitung mulai tahun 2017 – 2020, Pemerintah Desa (Pemdes) Batioh selaku pengelola wisata hutan kera nepa selalu konsisten setor PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Bahkan, di tahun 2020 saat pendapatan tidak memadai akibat pademi Covid-19, Suud mengaku mengeluarkan dana pribadi untuk menambah setoran, agar sesuai dengan kontrak pihak kabupaten.

“Untuk tahun 2021 ini, selaku pengelola, kami belum setor PAD. Hal itu disebabkan dampak pandemi covid-19 dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sehingga pengunjung sangat berkurang hingga 90%. Jadi apa yang mau kami setorkan,” paparnya.

Pihaknya menambahkan, bahwa di tahun 2021, Disporabudpar itu miskomunikasi. Jadi tidak diingatkan untuk menyetor PAD.

“Sekali lagi saya sampaikan, bahwa dari dulu kami konsisten menyetor PAD, hanya saja tahun 2021 ada sedikit kendala,” tandasnya.


Editor : Anam

Reporter : Anaf

474

Baca Lainnya