Surabaya | klikku.net – Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengisi Kuliah Umum bertema Wawasan Kebangsaan dan Kewirausahaan, di Auditorium Ki Moh. Saleh Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Selasa (18/10).
Kegiatan yang diikuti sekira 500 peserta dari unsur mahasiswa, dosen dan pimpinan fakultas tersebut, dibuka Rektor Unitomo Siti Marwiyah.
Dalam sambutannya, Siti Marwiyah mengatakan bahwa tantangan wawasan kebangsaan bagi kaum millennial atau anak muda saat ini, dimana 24 jam interaksinya lebih banyak berhubungan dengan ponsel (HP) atau gadget.
“Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi, pasti pegang ponsel. Dimana ponsel menjadi pintu masuk berbagai informasi tanpa portal dan tanpa seleksi. Lalu, apakah Pancasila bisa menyeleksi?” ungkapnya.
Rektor yang biasa disapa Iyat ini menambahkan, anak kecilpun saat ini sudah memiliki ketergantungan pada ponsel atau gadget.
“Padahal, mental dqn fikiran anak sangat tergantung pada asupan informasi. Lalu, asupan informasi yang didapat kaum millenial dari ponsel, apakah banyak positif atau lebih banyak negatifnya?, ” tanyanya.
“Dari sinilah, kami Unitomo, khawatir atas warisan para founding father kita. Bagaimana masa depan negara kesatuan RI? Masih utuhkah atau akan terbelah-belah? Untuk itu kami mengundang bapak Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, untuk memberikan wawasan kebangsaan dan kewirausahaan ke seluruh sivitas akademika Unitomo,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam paparannya, LaNyalla mengatakan bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa Unitomo, harus menjaga utuh kedaulatan RI ini.
“Jaga marwah tagline Unitomo, yakni Kampus Kebangsaan dan Kerakyatan. Mahasiswa jangan hanya menjadi agent of change, namun juga agent of repair. Sebab hakikat dari kewajiban intelektual, adalah melihat persoalan untuk kemudian menawarkan gagasan”, ujarnya.

Lebih lanjut, LaNyalla mengingatkan pentingnya mahasiswa diajarkan materi kebangsaan dan nasionalisme. Agar memiliki kesadaran, kewaspadaan, dan jati diri sebagai generasi penerus, untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa.
“Jauh sebelum bangsa ini merdeka, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1928, Pejuang Pendidikan Ki Hajar Dewantoro sudah mengingatkan, bahwa jika anak didik tidak kita ajar dengan kebangsaan dan nasionalisme. Mungkin mereka di masa depan akan menjadi lawan kita,” ungkapnya.
“Karena memang penghancuran ingatan kolektif suatu bangsa, dapat dilakukan dengan metode non perang militer. Yakni dengan memecah belah persatuan, mempengaruhi, menguasai dan mengendalikan pikiran dan hati warga bangsa,” pungkasnya. @Nto tze
