Ekonomi Bisnis Kesehatan

Selasa, 29 Juli 2025 - 14:38 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Rokok Masih Jadi Penyumbang Kemiskinan, Pakar Unair Sebut Pola Konsumsi Masyarakat Perlu Berubah

Surabaya | klikku.id  – Rokok masih jadi “biang kemiskinan” di Indonesia. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, rokok kretek filter menempati urutan kedua sebagai penyumbang garis kemiskinan terbesar setelah beras.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Wahyu Wisnu Wardana, menilai fenomena ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan juga persoalan pengetahuan dan budaya.

“Kemiskinan di Indonesia bersifat multidimensi. Salah satunya kemiskinan pengetahuan. Contohnya, meski miskin, banyak yang tetap mengonsumsi rokok. Padahal pola konsumsi itu justru membuat mereka sulit keluar dari lingkaran kemiskinan,” ujarnya, Selasa (29/7/2025).

Menurut Wahyu, konsumsi rokok yang tinggi menjadi indikasi adanya distorsi dalam pengeluaran rumah tangga, terutama pada kelompok berpenghasilan rendah.

“Seharusnya uang itu bisa dialihkan untuk kebutuhan gizi keluarga. Kalau tetap dihabiskan untuk rokok, sulit bagi mereka meningkatkan kualitas hidup,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat lebih bijak mengatur pengeluaran.

“Perlu perhatian khusus supaya pola konsumsi masyarakat berubah ke arah yang lebih sehat dan produktif,” tambah peneliti dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) Surabaya tersebut.

Selain edukasi, Wahyu menyoroti pentingnya pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Kalau harga tidak terkendali, dampaknya sangat besar. Meski harga murah, kalau pendapatan tidak ada, ya tetap susah. Jadi kesempatan kerja juga harus dijaga,” tegasnya.

Dalam risetnya, Wahyu menyebut program bantuan sosial (bansos) cukup efektif menopang ekonomi keluarga miskin.

“Mayoritas penerima bansos membelanjakan tambahan pendapatan untuk kebutuhan penting. Jadi distorsi konsumsi akibat bansos tidak signifikan,” ungkapnya.

Sebagai catatan, 75 persen garis kemiskinan BPS berasal dari sektor makanan, sisanya 25 persen dari non-makanan. Di antara komoditas makanan, beras, rokok, telur, daging ayam, mi instan, dan kopi jadi penyumbang terbesar. @Man


 

74

Baca Lainnya