Malang | klikku.id – Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Malang masih tinggi. Hingga semester pertama 2025, tercatat ada 93 kasus, naik signifikan dibanding periode sama tahun lalu. Mayoritas pelakunya, ironisnya, justru dari keluarga terdekat.
Melihat kondisi ini, Pemkot Malang melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (Dinsos-P3AP2KB) memperkuat peran keluarga agar jadi benteng utama perlindungan anak.
“Pola asuh adalah kunci. Tidak bisa semua orang tua menerapkan cara yang sama. Yang penting, pola asuh itu sehat dan tidak menimbulkan kekerasan,” tegas Donny Sandito, Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Kamis (31/7/2025).
Menurut Donny, kesalahan pola asuh kerap memicu kekerasan, baik fisik maupun psikis. Padahal, cara mengasuh yang tepat bukan hanya mencegah kekerasan, tapi juga menentukan tumbuh kembang anak di lingkungan sosialnya.
Selain menyasar orang tua, Dinsos-P3AP2KB juga memberi edukasi langsung kepada anak. Materinya meliputi pengenalan jenis kekerasan, batasan pergaulan, hingga pendidikan seksual.
“Kami ingin anak-anak paham dan berani melapor jika mengalami kekerasan,” katanya.
Donny mengakui meningkatnya laporan kasus bukan sepenuhnya kabar buruk. “Naiknya angka bukan berarti kekerasan makin parah, tapi kesadaran untuk speak up semakin tinggi. Itu yang kami dorong,” jelasnya.
Pemkot Malang menegaskan, upaya preventif berbasis keluarga akan terus diperkuat, mengingat keluarga adalah lingkungan terdekat sekaligus benteng pertama bagi anak. R3d
