Kesehatan Pendidikan

Rabu, 13 Agustus 2025 - 15:29 WIB

9 bulan yang lalu

logo

12 Tahun Unusa, Gencar Inovasi Kesehatan dari Ginjal, Stroke, hingga Ibu Nifas

Surabaya | klikku.id  – Memasuki usia ke-12, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mantap memposisikan diri sebagai kampus yang peduli pada kesehatan masyarakat.

Tekad itu ditegaskan dalam Sidang Senat Terbuka Harlah Unusa, Rabu (13/8), di Auditorium Kampus B Unusa Tower lantai 9.

Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA memuji lompatan prestasi Unusa yang dinilainya melampaui umurnya. “Unusa dari awal tidak didesain jadi universitas biasa-biasa saja,” ujarnya.

Ia menganalogikan perjalanan Unusa layaknya membangun dari titik menjadi garis, garis menjadi bidang, hingga ruang yang utuh. Ke depan, Unusa siap membuka program PPDS Jantung, Obgyn, S2 Kesehatan Masyarakat, hingga Pendidikan Profesi Gizi.

Rektor Unusa Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng. menambahkan, pendidikan harus peka membaca masa depan dan berorientasi pada kemanfaatan.

“Tema Harlah tahun ini, Terus Berinovasi Meraih Kejayaan, menjadi penegasan komitmen kampus untuk terus mengkaji kebutuhan masyarakat dan menghadirkan solusi lewat penelitian serta inovasi,” ungkapnya.

Tiga doktor baru Unusa turut menyampaikan orasi ilmiah, semuanya mengangkat tema kesehatan.

Dr dr Ardyarini Dyah Savitri SpPD FINASIM membedah pencegahan dini Penyakit Ginjal Diabetik (PGD) akibat Diabetes Melitus (DM) tipe 2.

Menurutnya, PGD dan gagal ginjal terminal masih sulit dicegah tuntas, membebani anggaran kesehatan.

“Data BPJS Kesehatan 2024 menunjukkan biaya perawatan PGK dan GGT menembus Rp 11 triliun, naik tajam dari Rp 6,5 triliun pada 2019. Ardyarini menyebut buah stroberi, yang kaya antioksidan, berpotensi membantu mengontrol gula darah dan mengatasi gangguan metabolik,” ujarnya.

Dr Yurike Septianingrum S.Kep Ns M.Kep memaparkan inovasi Model Dukungan Manajemen Diri Berbasis Perawatan Transisi bagi pasien stroke.

Model ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian aktivitas sehari-hari pasien melalui penguatan efikasi diri, melibatkan dukungan tenaga kesehatan dan keluarga.

“Perawatan transisi membangun kesiapan pasien agar tidak hanya jadi penerima pasif, tetapi subjek aktif yang mampu merawat diri,” tegasnya.

Sementara itu, Dr Agus Aan Adriansyah S.KM M.Kes menyoroti rendahnya capaian layanan postnatal care (PNC) di beberapa daerah, termasuk Surabaya. Lebih dari 20 persen puskesmas belum memenuhi target kunjungan ibu nifas.

Ia mengembangkan Model Social Competence bagi bidan, mengintegrasikan keterampilan teknis dengan kemampuan sosial-emosional seperti empati dan orientasi pelayanan.

“Bidan harus punya kemampuan membangun komunikasi efektif dan kemitraan kuat dengan ibu, keluarga, dan tenaga kesehatan lain,” tuturnya.

Dari ginjal, stroke, hingga kesehatan ibu pascapersalinan, rangkaian pidato ilmiah Harlah ke-12 Unusa ini menjadi bukti komitmen kampus untuk mengawal kesehatan masyarakat lewat inovasi nyata. @Man


 

68

Baca Lainnya