Pendidikan

Senin, 1 September 2025 - 15:49 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Bawa Inovasi Kesehatan Mental Digital, Mahasiswi UNAIR Raih Prestasi Internasional

Surabaya | klikku.id  – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR).

Raissyah Fatika, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), sukses mengharumkan nama almamater dengan menyabet gelar bergengsi dalam ajang internasional Global Youth Innovation Summit (GYIS) 2025 yang digelar di Singapura dan Malaysia pada 24–27 Agustus lalu.

Dalam forum inovasi pemuda dunia tersebut, Raissyah berhasil masuk Special Top 10 Funded Delegate, serta meraih dua penghargaan sekaligus. Yakni 3rd Place Best Team dan 2nd Place SDGs Project Video.

Capaian ini menempatkan dirinya sejajar dengan pemuda-pemuda inovatif dari berbagai negara, yang berlomba menyajikan solusi atas isu global berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Tidak hanya kompetisi, rangkaian GYIS juga diwarnai dengan kunjungan ke sejumlah kampus ternama dunia. Seperti Nanyang Technological University (NTU) di Singapura, University of Malaya, dan International Islamic University Malaysia (IIUM).

Dalam ajang tersebut, Raissyah bersama timnya mengusung isu kesehatan mental, terutama dampak negatif media sosial terhadap generasi muda. Mereka memperkenalkan KawanSeasa dan prototipe aplikasi RuangSeasa.

Aplikasi ini dirancang sebagai ruang aman digital dengan fitur-fitur inovatif, antara lain AsaBot, yaitu AI Chat Box yang berfungsi sebagai teman virtual sekaligus sistem pendukung psikososial.

Ada pula bacaan edukatif seputar kesehatan mental, serta fitur find help nearby. Yang memudahkan pengguna mengakses layanan psikolog terdekat.

“Banyak konten di media sosial yang menggiring opini publik, hingga membuat anak muda merasa overwhelmed. Harapan kami, KawanSeasa bisa menjadi ruang aman di dunia digital,” jelas Raissyah.

Untuk bisa lolos GYIS, Raissyah harus melewati proses seleksi yang ketat, mulai dari administrasi, tes kebangsaan, hingga Leaderless Group Discussion (LGD) dan wawancara.

“Mental kompetitif wajib dipersiapkan. Untuk seleksi lain, aku banyak riset dan mengikuti isu terkini,” ungkapnya.

Bagi Raissyah, kesempatan ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga ruang kolaborasi dengan pemuda dari berbagai negara. Mahasiswi yang kini memasuki tahun terakhir kuliahnya itu ingin memanfaatkan setiap peluang sebelum lulus.

“Ini menjadi ruang kolaborasi bagiku untuk belajar kritis dan inovatif. Selama masih mahasiswa, aku ingin memaksimalkan semua kesempatan yang ada,” pungkasnya. @Man


 

84

Baca Lainnya