Ekonomi Bisnis Pendidikan

Sabtu, 6 September 2025 - 11:09 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Dapat Kucuran Dana PDB 2025, Unitomo Sulap Desa Rek Kerrek Pamekasan Jadi Sentra Batik-Songkok

Pamekasan | klikku.id – Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, kembali jadi sorotan. Tahun ini, desa tersebut terpilih lagi sebagai lokasi Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) 2025.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengucurkan pendanaan lewat skema Multitahun untuk mendukung pengembangan batik dan songkok batik khas Madura.

Tema yang diusung tak main-main, yakni “Membangun Perekonomian Mandiri Melalui Desa Tematik Berbasis Penguatan Teknologi Home Industry yang Dikelola BUMDes Sejahtera”.

Tim pelaksana PDB berasal dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) bersama Universitas Wijaya Putra (UWP).

Ketua tim, Prof. Dr. Nur Sayidah, SE., MSi., Ak, menggandeng dua kolega dari Unitomo, Prof. Dr. Siti Marwiyah, SH., MH, dan Dr. Liosten Ully Tampubolon, MM, serta Muharom, ST., MT., dosen Teknik Mesin UWP. Empat mahasiswa Unitomo juga ikut serta dan mendapat rekognisi 6 SKS.

Program PDB kali ini fokus pada dua mitra. Pertama, Kelompok Pengrajin Songkok Batik di bawah naungan BUMDes Sejahtera. Kedua, Kelompok Pengrajin Batik di UD. Batik Nong Tangis. Dua teknologi anyar diserahkan kepada warga: mesin pengering batik Infrared Dryroom dan inovasi Canting Cap.

Mesin pengering Infrared jadi jawaban atas kendala klasik pengrajin songkok batik ketika musim hujan. Selama ini, proses pengeringan bergantung penuh pada panas matahari.

Akibatnya, saat mendung, produksi tersendat. Dengan mesin ini, pengrajin bisa mengeringkan kain kapan pun tanpa khawatir cuaca.

Sementara itu, Canting Cap hadir sebagai solusi lambannya proses batik tulis. Alat ini memungkinkan pengrajin mempercepat pengerjaan motif tanpa mengorbankan keaslian seni batik Madura.

“Program ini tidak berhenti di serah terima. Kami juga lakukan pelatihan dan pendampingan agar inovasi benar-benar dipakai dan dirasakan manfaatnya,” jelas Prof. Nur Sayidah.

Kepala Desa Rek Kerrek, Fadil, menyampaikan apresiasi kepada Kemdiktisaintek dan Tim PDB Unitomo. Menurutnya, inovasi teknologi yang dibawa menjadi angin segar bagi warga desa.

“Batik dan songkok batik adalah identitas Madura. Kehadiran teknologi ini akan mempercepat produksi sekaligus membuka peluang pasar lebih luas,” ujarnya.

Rasa syukur juga datang dari para pengrajin. Imam Safi’i, Ketua Kelompok Songkok Batik BUMDes Sejahtera, menilai Infrared Dryroom benar-benar membantu. “Sekarang walau mendung dan hujan, produksi kami tetap jalan,” katanya.

Hal senada diungkapkan Rida’E, Ketua Kelompok Batik UD. Batik Nong Tangis. Ia menyebut Canting Cap bikin proses pembuatan batik jauh lebih efisien. “Waktu pengerjaan bisa dipangkas, hasil tetap berkualitas,” ungkapnya.

Dengan dukungan PDB 2025, Desa Rek Kerrek diproyeksikan menjadi model desa mandiri berbasis teknologi home industry. BUMDes Sejahtera dipersiapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa, yang bukan hanya menambah pendapatan warga, tapi juga memperluas pasar batik Madura hingga ke level internasional.

“Kami ingin Desa Rek Kerrek jadi contoh desa tematik berbasis inovasi teknologi. Tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tapi juga mencetak generasi baru pengrajin batik Madura yang siap go internasional,” tegas Prof. Nur Sayidah. R3D


 

111

Baca Lainnya