Pendidikan

Senin, 8 September 2025 - 20:09 WIB

7 bulan yang lalu

logo

Kisah Inspiratif Maria Goreti, Anak Petani Manggarai Barat Non Muslim Raih Beasiswa Unusa

Surabaya | klikku.id – Perjalanan hidup Maria Goreti Laura Saina, mahasiswi baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), menjadi bukti bahwa tekad dan doa orang tua mampu mengantarkan anak menuju pendidikan tinggi.

Gadis asal Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang akrab disapa Lala ini resmi diterima di Program Studi Gizi Unusa melalui jalur beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) tahun 2025.

Lala merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.

Dengan penghasilan tak lebih dari Rp500 ribu per bulan, orang tuanya tetap berjuang agar anak-anak mereka bisa bersekolah.

“Motivasi terbesar saya adalah bapak dan mamak. Mereka hanya lulusan SD, tapi tidak pernah menyerah demi pendidikan anak-anaknya. Termasuk menyekolahkan saya agar bisa jadi sarjana pertama di keluarga,” ungkap Lala penuh rasa syukur.

Sejak SMP hingga SMA, Lala bersekolah di Labuan Bajo. Karena jarak rumah cukup jauh, ia tinggal bersama saudara dan setiap hari harus menempuh perjalanan kaki sekitar 30 menit menuju sekolah.

Saat kecil, Lala bercita-cita menjadi dokter. Namun, seiring bertambahnya usia, ia mulai realistis melihat kondisi ekonomi keluarga.

Keinginannya berubah menjadi apoteker. Sayangnya, ketika mencoba jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) saat SMA, ia tidak lolos.

“Dulu pengennya jadi dokter, terus berubah pikiran jadi apoteker. Pas SMA coba daftar SNBP, tapi tidak diterima. Sempat putus asa dan menyerah,” kenangnya.

Kabar dari kakaknya membuat Lala menyadari bahwa biaya kuliah farmasi cukup tinggi. Dari situlah ia mulai mencari informasi beasiswa kuliah, hingga akhirnya menemukan Unusa yang membuka jalur KIP-K.

Meski sempat ragu karena mayoritas mahasiswa Unusa beragama Islam, Lala memberanikan diri mendaftar. Bahkan ia sempat mendapat cibiran dari orang sekitar yang meremehkan pilihannya.

“Ada yang bilang saya nggak akan diterima karena kampusnya banyak muslim. Tapi akhirnya terbukti saya bisa lolos di Unusa,” cerita Lala.

Proses masuk Unusa pun penuh lika-liku. Awalnya, ia mencoba mendaftar ke jurusan keperawatan dan kebidanan, tetapi tidak memenuhi syarat tinggi badan.

Lala kemudian disarankan memilih Analis Kesehatan atau Gizi. Atas saran ayahnya, ia akhirnya memilih Program Studi Gizi.

“Awalnya sedih karena tidak sesuai cita-cita. Dokter gagal, apoteker gagal, keperawatan dan bidan juga ditolak. Tapi akhirnya Bapak menyarankan Gizi. Alhamdulillah saya diterima di Unusa dengan beasiswa KIP-K,” ujarnya haru.

Bagi Lala, keluarga adalah alasan terbesar untuk terus berjuang. Dengan doa dan dukungan orang tua, ia yakin bisa menyelesaikan studinya dan membanggakan kampung halamannya.

“Gunakan bantuan yang diterima sebaik mungkin untuk meraih cita-cita. Kita tidak pernah tahu seberapa besar perjuangan orang tua untuk pendidikan kita,” tegasnya.

Perjalanan Lala membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi, selama ada semangat, doa, dan kesempatan. @Man


 

96

Baca Lainnya