Bangkalan | klikku.id — Duka masih menggantung di Desa Parseh. Enam santri muda kehilangan nyawanya setelah bermain di area kolam bekas galian C yang dibiarkan menganga tanpa pengamanan memadai. Musibah ini menyisakan luka, sekaligus pertanyaan besar tentang tanggung jawab moral dan keselamatan ruang hidup masyarakat.
Menyatakannya Thomas, salah satu warga Kabupaten Bangkalan, menyampaikan pernyataan terbuka yang penuh keprihatinan melalui Ketua Pejalan Kabupaten Bangkalan. Suaranya mewakili banyak hati yang masih remuk.
“Pertama, izinkan saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada enam korban. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka, menerima segala amal baik mereka, dan memberi ketabahan bagi seluruh keluarga,” ucap Thomas dengan lirih melalui pernyataan resminya.
Namun bagi Thomas, duka saja tidak cukup. Ada hal-hal yang tidak boleh lagi didiamkan.
Ia menilai tragedi ini muncul setidaknya dari dua unsur utama. Pertama, kurangnya pengawasan dari pihak pengelola maupun pembina pondok pesantren. “Anaknya banyak, tapi tidak terpantau dengan baik. Ini harus menjadi evaluasi serius,” tegasnya.
Kedua dan yang tak kalah penting, keberadaan kubangan bekas galian yang jelas membahayakan. Lubang itu dibiarkan menganga, menjadi perangkap sunyi yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa siapa saja manusia maupun hewan.
“Kita harus jujur mengakui, lokasi itu berbahaya. Pemerintah daerah semestinya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Harus ada keputusan: ditutup total atau setidaknya dipagar agar tidak menjadi ancaman baru,” ujar Thomas.
Menurutnya, tragedi ini adalah alarm keras bahwa pengelolaan ruang publik dan keselamatan warga tidak boleh setengah hati. Bekas galian yang tidak direstorasi dengan benar bukan hanya kelalaian teknis, tetapi juga mengandung implikasi etis karena menyangkut nyawa manusia.
Thomas berharap lembaga pendidikan memperketat pengawasan terhadap para santri, memastikan keselamatan mereka menjadi prioritas dalam setiap aktivitas.
Kepada pemerintah daerah, ia mendesak evaluasi menyeluruh terhadap seluruh titik bekas galian di Bangkalan yang masih dibiarkan terbuka.
“Kalau dibiarkan seperti itu, ancaman akan terus ada. Kita tidak boleh menunggu korban berikutnya. Semaksimal mungkin kecelakaan seperti ini harus diakhiri,” tegasnya menutup pernyataan.
Musibah ini memang menyakitkan, tetapi suara seperti milik Thomas mengingatkan bahwa tragedi seharusnya menjadi titik balik bukan hanya kabar duka yang berlalu begitu saja.
(Anam)
