Daerah Ekonomi Bisnis

Sabtu, 13 Desember 2025 - 12:38 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Dok Anam klikku.id Biro Bangkalan.

Dok Anam klikku.id Biro Bangkalan.

Mekanisasi Jadi Keniscayaan Dinas Pertanian Dorong Efisiensi dari Manual hingga Menjadi Petani Modern

Bangkalan | klikku.id — Keterbatasan tenaga kerja pertanian di tengah luasnya lahan sawah menjadi tantangan serius yang kini dihadapi petani. Menjawab persoalan itu, Dinas Pertanian terus mendorong penerapan mekanisasi pertanian sebagai jalan menuju pertanian yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam Podcast Perkumpulan Jurus Bangkalan, sebuah ruang diskusi santai namun berbobot yang mengupas isu pertanian lebih dekat. Podcast ini menghadirkan Dr. CHK, Karyadinata Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Bangkalan, bersama H Halik Ketua Gapoktan Tunjung Burneh yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan kondisi para petani di lapangan.

Dalam pemaparannya, CHK menegaskan bahwa mekanisasi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan yang harus dijalankan.

“Melihat keterbatasan tenaga kerja pertanian dan luasan lahan yang cukup besar, kalau dikerjakan manual tentu butuh waktu lama dan kualitasnya juga tidak maksimal. Maka mekanisasi ini harus dimulai,” ujarnya.

Selama ini, mekanisasi paling minimal sudah diterapkan melalui penggunaan hand tractor untuk pengolahan tanah. Bahkan di sejumlah wilayah, petani telah menggunakan traktor roda empat serta combine harvester saat panen. Namun, menurut CHK, yang masih dalam tahap pengenalan adalah mekanisasi pada fase tanam, yakni dengan rice transplanter.

Rice transplanter dinilai mampu memangkas waktu dan biaya secara signifikan. Untuk menanam satu hektare sawah, cukup dua orang tenaga kerja dengan satu unit mesin dalam waktu satu hari.

“Bayangkan kalau pakai tenaga manusia, bisa 20 sampai 25 orang. Dari sini sudah terlihat efisiensi waktu dan biaya,” jelasnya.

Selain kecepatan, mesin ini juga menjamin kerapian tanam. Jarak antar tanaman seragam, barisan rapi, dan sesuai standar budidaya. Hal ini berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman dan potensi hasil panen.

Penerapan rice transplanter juga tidak lepas dari penggunaan bibit yang disemai menggunakan tray. Sistem ini dinilai mampu menghindari masalah klasik seperti akar dan batang terpotong saat pindah tanam.

“Bibit tidak lagi disemai di sawah, tapi di tray dengan ukuran dan kepadatan tertentu yang sesuai dimensi mesin. Ini lebih hemat lahan, bisa dilakukan di pekarangan rumah, bahkan bertingkat,” tambahnya.

Terkait akses alat, CHK menjelaskan bahwa saat ini telah dibentuk enam brigade alsintan yang melayani beberapa kecamatan. Melalui sistem ini, lahan-lahan mati yang sudah bertahun-tahun tidak tergarap mulai dihidupkan kembali.

“Ada lahan yang hampir lima tahun tidak tergarap, lebih dari 25 hektare. Alhamdulillah, tahun ini pemilik lahan yakin dibuka kembali dengan sistem mekanisasi,” ungkapnya.

Ke depan, mekanisasi tidak hanya berhenti pada pengolahan lahan dan tanam. Pemupukan dan penyemprotan yang saat ini masih mengandalkan tenaga manusia ditargetkan beralih menggunakan drone pertanian.

Sementara itu, dari sisi ekonomi, Ketua Gapoktan menilai biaya tanam menggunakan mesin justru lebih murah dibanding cara manual.

“Kalau manual lebih mahal karena banyak tenaga kerja. Kalau pakai mesin cukup dua orang. Apalagi kalau dikelola Gapoktan dan Poktan sendiri, insya Allah lebih hemat lagi,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa saat ini petani masih dalam tahap adaptasi. Harga mesin dan kemampuan mengoperasikan menjadi kendala awal. Namun optimisme tetap tinggi.

“Kalau sudah merasakan manfaatnya, insya Allah dalam satu-dua tahun petani akan terbiasa. Generasi sekarang juga lebih suka bertani secara modern,” katanya.

Mekanisasi pertanian dinilai bukan sekadar soal alat, melainkan upaya menjaga keberlanjutan sektor pangan nasional.

“Tanpa petani, Indonesia tidak akan berjalan. Maka pertanian harus dibuat modern agar tetap diminati,” pungkasnya.

Melalui langkah bertahap dari traktor, transplanter, hingga teknologi drone, Dinas Pertanian berharap pertanian Bangkalan mampu bertransformasi menjadi lebih efisien, produktif, dan berdaya saing di masa depan.

(Anam)

223

Baca Lainnya