Daerah Ekonomi Bisnis

Minggu, 14 Desember 2025 - 02:25 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Momen penanaman padi poktan Tonjung Burneh Bangkalan, dok klikku.id Anam Jawa Timur.

Momen penanaman padi poktan Tonjung Burneh Bangkalan, dok klikku.id Anam Jawa Timur.

Kejar Nilai Ekonomis Poktan Burneh Bangkalan Beralih pada Mekanisasi Pertanian

Bangkalan | klikku.id  — Kelompok Tani (Poktan) di wilayah Burneh, Kabupaten Bangkalan, mulai meninggalkan cara bertani konvensional dan beralih ke sistem mekanisasi pertanian. Langkah ini bukan semata mengikuti perkembangan teknologi, melainkan ditujukan untuk meningkatkan nilai ekonomis usaha tani yang selama ini tergerus oleh tingginya biaya produksi dan keterbatasan tenaga kerja.

Ketua Poktan Burneh, H. Halik, mengungkapkan bahwa penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) memberikan dampak langsung terhadap struktur biaya tanam padi. Jika sebelumnya pengolahan dan tanam secara manual menyerap biaya besar untuk upah tenaga kerja, kini beban tersebut dapat ditekan secara signifikan.

“Kalau satu hektare dikerjakan manual, bisa butuh 20 sampai 25 orang. Itu jelas mahal. Dengan mesin cukup dua orang saja, satu hari selesai. Dari situ nilai ekonominya langsung terasa,” ujar H. Halik.

Menurutnya, efisiensi tenaga kerja otomatis berdampak pada penurunan biaya produksi per hektare. Selisih tersebut menjadi ruang baru bagi petani untuk meningkatkan margin keuntungan, terlebih ketika luas tanam diperbesar.

Penerapan rice transplanter menjadi titik balik perubahan teknis di lapangan. Selain mempercepat tanam, mesin ini menghasilkan jarak tanam yang seragam sehingga pertumbuhan padi lebih optimal dan berpotensi meningkatkan hasil panen.

“Tanamnya rapi, jaraknya pas. Harapannya hasil panen juga naik. Kalau hasil naik dan biaya turun, otomatis nilai ekonominya bertambah,” jelasnya.

Aspek ekonomis juga diperkuat dengan penggunaan bibit padi yang disemai menggunakan tray. Sistem ini mengurangi kerusakan bibit, mempercepat adaptasi tanaman, dan menekan risiko gagal tanam.

“Bibit dari tray lebih kuat. Tidak banyak yang mati atau rusak. Itu artinya kerugian bisa ditekan sejak awal,” tambah H. Halik.

Dari sisi perhitungan biaya, H. Halik menegaskan bahwa mekanisasi justru lebih murah dibanding cara manual, meskipun sebagian petani awalnya menilai penggunaan mesin akan lebih mahal.

“Faktanya, manual itu lebih mahal. Mesin kelihatannya borongan, tapi hitungannya lebih irit. Apalagi kalau dikelola sendiri oleh Poktan dan Gapoktan,” tegasnya.

Ia menilai, ke depan pengelolaan alsintan secara mandiri oleh kelembagaan tani akan menjadi kunci peningkatan nilai tambah usaha tani. Dengan begitu, petani tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengelola sarana produksi.

Meski masih menghadapi tantangan keterampilan pengoperasian alat, Poktan Burneh menargetkan dalam satu hingga dua tahun ke depan petani sudah mampu menguasai alsintan secara mandiri.

“Kalau petani sudah bisa mengoperasikan sendiri, biaya makin turun dan keuntungan makin naik. Itu target ekonomi kami,” kata H. Halik.

Peralihan ke mekanisasi juga dinilai lebih menarik bagi generasi muda tani, karena lebih efisien dan tidak menguras tenaga.

“Pertanian harus dibuat modern supaya petani tetap ada. Kalau petani sejahtera, ekonomi desa juga ikut naik,” pungkasnya.

Bagi Poktan Burneh, mekanisasi pertanian bukan sekadar modernisasi alat, tetapi strategi peningkatan nilai ekonomis agar usaha tani padi tetap menguntungkan dan berkelanjutan di tengah tantangan zaman.

(Anam)

257

Baca Lainnya