SURABAYA | klikku.id – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh tiga bulan lalu masih menyisakan luka mendalam bagi para korban.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, sebagian warga juga bergulat dengan trauma berkepanjangan.
Melihat kondisi itu, Universitas Airlangga (Unair) menerjunkan tim untuk memberikan pendampingan psikososial. Pendekatan yang dilakukan menekankan empati dan penguatan mental agar korban mampu bangkit secara bertahap.
Salah satu korban, Ramiati, mengaku rumahnya sempat tenggelam dan dipenuhi lumpur. Ia harus mengungsi bersama keluarga dan kehilangan sumber penghasilan.
Hingga kini, ia dan keponakannya yang masih berusia lima tahun masih merasa cemas setiap kali hujan turun deras. Jantung berdebar dan sulit tidur menjadi keluhan yang kerap muncul.
Dosen Vokasi Unair Edith Frederika Puruhito SKM MSc menjelaskan, trauma pascabencana merupakan respons normal. Namun, banyak korban tidak menyadari gejalanya.
“Trauma bisa dialami siapa saja, mulai anak-anak, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, hingga mereka yang kehilangan anggota keluarga,” ujarnya, Minggu (22/2).
Menurut Edith, gejala trauma tidak selalu tampak. Ada “luka tak terlihat” seperti mudah kaget (hypervigilance), kilas balik kejadian (flashback), perasaan hampa, hingga kelelahan ekstrem.
Jika berlanjut, gejala fisik bisa muncul, seperti insomnia, gangguan pencernaan, sakit kepala, jantung berdebar, hingga keringat berlebih.
Karena itu, tim Unair memberikan edukasi pengenalan gejala trauma sekaligus teknik penguatan diri. Salah satunya melalui panduan akupresur, metode terapi tanpa jarum untuk membantu relaksasi dan mengurangi kecemasan.
Edith berharap trauma warga tidak berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Ia menekankan pentingnya self awareness, memvalidasi perasaan, dan fokus pada perbaikan kecil setiap hari.
“Pemulihan tidak datang dari perubahan besar yang instan, tetapi dari langkah kecil yang konsisten. Menerima kenyataan baru dan membangun sesuatu yang baik dari situasi itu adalah kunci,” tegasnya.
Melalui pendampingan ini, Unair berharap semangat warga Aceh kembali tumbuh, sehingga mereka mampu melangkah menuju pemulihan yang utuh, secara fisik maupun mental. AMan
