BANGKALAN | klikku.id – Ditengah ketidakpastian cuaca dan fluktuasi harga, para petani tembakau di Desa Lomaer, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, tetap bertahan dengan perhitungan sederhana: selama masih ada selisih antara modal dan hasil penjualan, harapan itu belum padam.
Hasib, Bendahara Poktan Makmur Tiga, Desa Lomaer, Kecamatan Blega, mengungkapkan bahwa pada musim tanam 2025 lalu, pihaknya menanam sekitar 5.000 pohon tembakau dari program DBHCHT TA 2025. Dari hasil panen tersebut, total penjualan mencapai Rp5 juta.
“Dari lima juta itu, biaya tanam yang kami keluarkan sekitar Rp2.400.000. Jadi masih ada keuntungan kurang lebih Rp2,5 juta,” ungkapnya saat ditemui di sela aktivitas pertanian.
Namun keuntungan tersebut, menurut Hasib, bukan tanpa risiko. Ia mengakui cuaca menjadi faktor penentu. Hujan yang turun di masa pengeringan tembakau memengaruhi kualitas daun dan berdampak langsung pada harga jual. “Kalau tidak terkendala hujan, keuntungannya bisa lebih dari itu,” ujarnya.
Jika dihitung secara ekonomi sederhana, margin keuntungan sekitar Rp2,5 juta dari 5.000 batang tembakau memang menunjukkan usaha tersebut masih berada di zona positif. Namun dalam perspektif ekonomi pertanian, angka tersebut tergolong tipis jika dibandingkan dengan risiko gagal panen, perubahan harga pasar, serta tenaga kerja yang dikeluarkan.
Secara teori ekonomi mikro, sektor pertanian rakyat seperti tembakau sangat rentan terhadap risiko produksi (cuaca) dan risiko harga (pasar). Ketika biaya tetap seperti pupuk, tenaga kerja, dan perawatan sulit ditekan, maka peningkatan produktivitas menjadi satu-satunya cara untuk memperbesar margin keuntungan.
Selain menanam tembakau, Hasib mengaku berharap adanya dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah, khususnya untuk komoditas padi.
“Kami berharap ada bantuan alsintan supaya produksi padi bisa maksimal,” katanya.
Menurutnya, penggunaan alat pertanian modern dapat menekan biaya operasional dan mempercepat proses olah lahan. Dari sisi ekonomi, mekanisasi pertanian memang terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja dalam jangka panjang.
Bagi petani kecil seperti Poktan Makmur Tiga di Desa Lomaer, tambahan dukungan alsintan bukan sekadar bantuan fisik, melainkan instrumen untuk memperbesar skala ekonomi usaha tani. Dengan produksi yang lebih efisien, margin keuntungan dapat meningkat, sehingga ketahanan ekonomi keluarga petani menjadi lebih stabil.
Pengakuan Hasib menggambarkan realitas petani di tingkat akar rumput keuntungan ada, tetapi tipis dan sangat bergantung pada faktor alam.
Dalam kondisi seperti ini, intervensi kebijakan berupa dukungan sarana produksi dan mekanisasi menjadi faktor penentu apakah usaha tani bisa naik kelas atau hanya sekadar bertahan.
Di Desa Lomaer, para petani masih menggantungkan harapan pada musim yang bersahabat dan kebijakan yang berpihak. Sebab bagi mereka, setiap batang tembakau dan setiap bulir padi bukan sekadar hasil panen melainkan denyut ekonomi keluarga yang harus terus dijaga.
#Anam
