Bangkalan | klikku.id— Pagi masih basah oleh embun ketika suara mesin pompa air memecah sunyi sawah di pelosok Bangkalan. Di antara hamparan padi yang mulai menguning, para petani bekerja dengan keyakinan baru: panen mereka kini lebih terjaga, harga lebih jelas, dan pendampingan tak lagi setengah hati.
Kepala Bidang Pertanian DP2KP Bangkalan, Abu Said, menyebut perubahan itu bukan datang tiba-tiba. Ada benih yang dibagikan, ada sumur bor yang dibangun, ada pompa air yang menyala saat kemarau mengancam.
“Dulu petani sering cemas soal air dan harga. Sekarang bantuan benih, pompa, dan sumur bor sangat membantu. Ditambah harga yang jelas, itu menambah gairah mereka,” ujarnya.
Harga gabah yang kini berada di kisaran Rp6.500 per kilogram menjadi angin segar. Bagi petani kecil, selisih ratusan rupiah saja bisa berarti tambahan biaya sekolah anak atau memperbaiki atap rumah yang bocor. Kepastian harga bukan sekadar angka, melainkan rasa aman untuk terus menanam.
Dibalik angka surplus, ada peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang hampir tidak pernah absen di pematang sawah. Mereka datang memberi arahan, memantau hama, hingga memastikan masa tanam berjalan tepat waktu. “Sekarang penyuluh kerjanya luar biasa. Tidak kenal hari libur. Pendekatannya intens sekali,” tutur Abu Said.
Pendekatan personal inilah yang membuat petani merasa tidak sendirian. Mereka tak lagi hanya menunggu hasil alam, tapi dibekali ilmu dan strategi. Dari cara tanam yang lebih efektif hingga pemupukan yang tepat, semua diarahkan demi satu tujuan produktivitas meningkat.
Tahun 2024, Bangkalan surplus beras selama 8 bulan. Tahun 2025 meningkat menjadi 13 bulan. Target 2026 bahkan dipatok minimal 16 bulan surplus, dengan kebutuhan beras masyarakat mencapai 8.072 ton setiap bulan.
Namun di balik data itu, tersimpan cerita tentang keluarga petani yang kini lebih percaya diri menghadapi musim tanam berikutnya. Surplus bukan hanya soal stok di gudang, tetapi tentang dapur yang tetap mengepul dan harapan yang tetap tumbuh.
Di antara kecamatan lain, Kecamatan Burneh menjadi penghasil beras tertinggi di Kabupaten Bangkalan. Sawah-sawah di wilayah ini seperti tak pernah berhenti berdenyut. Setiap musim panen adalah perayaan kecil bagi warga.
Di sana, anak-anak berlarian di tepi sawah sementara orang tua mereka memanen bulir padi yang menguning. Hasil panen bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi simbol ketekunan dan kebersamaan.
Bagi Abu Said, swasembada pangan bukan sekadar target birokrasi. Itu adalah wajah-wajah petani yang kembali bersemangat, penyuluh yang tetap turun meski hari libur, dan lahan sawah yang terus memberi kehidupan.
“Kalau semua bergerak bersama, insyaallah Bangkalan bisa benar-benar swasembada pangan,” pungkasnya.
Dan di setiap bulir beras yang tersaji di meja makan warga Bangkalan, ada cerita tentang kerja keras, doa, dan harapan yang tumbuh dari tanah sendiri.
#Anam
