SURABAYA | klikku.id – Perjuangan Benta Malika El Ghameela menembus dunia kedokteran penuh cerita haru.
Anak pedagang fotokopi asal Bangkalan itu akhirnya resmi menyandang gelar dokter setelah dilantik bersama 15 dokter baru di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Di balik keberhasilannya, ada satu ritual sederhana yang selalu dilakukan sang ibu setiap Benta menghadapi ujian. Sebelum masuk ruang ujian, Benta akan mengirim pesan berisi nama penguji, jam, dan lokasi ujian. Setelah itu, ibunya di Madura mulai membaca Surat Yasin hingga ujian selesai.
“Itu jimat dari Mama,” ujar Benta mengenang perjuangan selama kuliah kedokteran.
Perempuan kelahiran Bangkalan, 9 April 2000 itu menjadi dokter pertama di keluarganya yang seluruhnya berlatar belakang pedagang kecil.
Keinginannya menjadi dokter muncul sejak kecil saat melihat sang kakek rutin menjalani cuci darah akibat komplikasi diabetes dan gangguan ginjal.
“Dulu saya berpikir, kalau jadi dokter saya bisa merawat keluarga sendiri,” katanya.
Namun jalan menuju mimpi itu tidak mudah. Orang tuanya yang menjalankan usaha fotokopi dan percetakan kecil harus berjuang keras membiayai pendidikan kedokteran yang mahal.
Cobaan terberat datang saat pandemi Covid-19. Usaha keluarga nyaris berhenti total karena sekolah dan kantor tutup. Kondisi itu sempat membuat Benta takut tidak bisa melanjutkan kuliah.
Alih-alih menyerah, kedua orang tuanya memilih banting setir berjualan pakaian demi mempertahankan pendidikan anak sulungnya tersebut.
“Orang tua saya tidak pernah mengeluh soal biaya. Mereka cuma bilang saya harus tetap belajar,” ungkapnya.
Di kampus, Benta juga sempat minder karena bukan berasal dari keluarga dokter. Ia datang kuliah dengan sepeda motor biasa saat sebagian mahasiswa lain membawa mobil.
Meski begitu, ia memilih membuktikan diri lewat prestasi dan aktif di organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional.
Kini, setelah resmi menjadi dokter, Benta bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis bedah dan kembali mengabdi di Madura.
“Kalau orang tua saya tidak pernah mengeluh demi pendidikan saya, maka saya juga tidak boleh menyerah,” tuturnya. AM@n
