SURABAYA | klikku.id – Penanganan tuberkulosis (TB) tak cukup hanya mengandalkan metode konvensional.
Di tengah tingginya kasus dan munculnya resistansi obat, diagnosis TB perlu dibuat lebih cepat, akurat, mudah diakses, sekaligus mampu menyesuaikan kondisi setiap pasien.
Hal itu menjadi salah satu sorotan Prof Dr Soedarsono SpP(K) dalam International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (10/8).
Prof Soedarsono memaparkan perkembangan riset TB, mulai deteksi dini, pemeriksaan resistansi obat, hingga pengembangan terapi presisi.
Mengacu Global Tuberculosis Report 2025, pada 2024 terdapat sekitar 10,6 juta orang yang sakit TB di dunia dengan 1,3 juta kematian. Indonesia menyumbang sekitar 1,08 juta kasus dan menjadi negara dengan kasus TB tertinggi kedua setelah India.
Karena itu, pencarian kasus perlu bergeser dari sekadar menunggu pasien datang berobat menjadi deteksi aktif berbasis risiko. Kelompok seperti kontak serumah pasien TB, penderita HIV dan diabetes, penyandang malnutrisi, serta masyarakat di kawasan padat perlu mendapat perhatian khusus.
Teknologi kecerdasan buatan (AI) pun mulai membuka peluang baru. Foto toraks digital yang dipadukan dengan AI dapat membantu proses skrining dan menentukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan molekuler lebih lanjut.
Diagnosis juga mulai dikembangkan agar tidak sepenuhnya bergantung pada sampel dahak. Peneliti kini mengeksplorasi urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan hingga biomarker respons tubuh.
Menurut Prof Soedarsono, riset TB juga bergerak menuju pemanfaatan transcriptomic signatures, proteomik, metabolomik, cytokine panels, dan immune signatures.
Teknologi tersebut berpeluang membantu membedakan infeksi, TB subklinis dan TB aktif, sekaligus memprediksi perkembangan penyakit serta respons terhadap terapi.
Perubahan paradigma juga menyentuh pengobatan. Pasien TB tidak bisa diperlakukan sebagai kelompok yang seragam. Respons obat dapat dipengaruhi usia, berat badan, diabetes, HIV, status nutrisi, fungsi organ, interaksi obat, resistansi bakteri hingga faktor genetik.
“Ke depan arahnya adalah precision medicine. Obat yang tepat untuk pasien yang tepat, dengan dosis dan durasi yang tepat,” ujarnya.
Untuk mendeteksi resistansi secara lebih cepat, riset juga mengembangkan rapid molecular assays, targeted sequencing, next-generation sequencing hingga whole-genome sequencing.
Bagi Unusa, perkembangan tersebut sejalan dengan penguatan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Pulmonologi. Forum ilmiah menjadi ruang bagi dokter, dosen, dan residen untuk mempertemukan perkembangan teknologi dengan kebutuhan penanganan TB di Indonesia.
Prof Soedarsono menekankan, teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti jika sulit diakses masyarakat.
“Ukuran keberhasilan inovasi kesehatan bukan hanya kecanggihan teknologinya, tetapi seberapa besar dampaknya bagi masyarakat,” tegasnya.
Unusa juga mendorong penguatan pendidikan, riset, dan layanan kesehatan, agar penanganan TB ke depan semakin cepat, presisi, terjangkau, dan berbasis bukti. AM@n
