SURABAYA | KLIKKU.ID – Ruang publik di Jawa Timur belakangan ini terus dihangatkan oleh gelombang perlawanan moral. Di bawah terik matahari Surabaya, Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Jawa Timur (APMP Jatim) yang dikomandoi oleh Acek Kusuma, secara berani mendobrak pintu gerbang Bank Jatim dan Gedung Negara Grahadi. Mereka membawa satu misi besar: membongkar tabir gelap dugaan korupsi dan kredit macet senilai Rp596 miliar.
Langkah APMP Jatim bukan sekadar gertakan sambal. Berbekal dokumen Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI, Acek Kusuma melayangkan Laporan Pengaduan Masyarakat (Dumas) beserta XI berkas bukti tambahan ke meja Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Namun, di tengah bukti yang benderang, respon para pejabat berwenang justru dinilai pasif, lambat, dan terkesan “jalan di tempat”.
Dalam orasi ilmiahnya dihadapan ratusan massa, Acek secara transparan menguliti empat modus operandi kejahatan perbankan terencana yang terjadi di tubuh bank plat merah tersebut. Publik dikejutkan dengan fakta rekayasa analisis kelayakan debitur komersial, kucuran dana tambahan (top-up) fiktif, hingga fenomena misterius “agunan gaib” di mana sertifikat agunan fisik mendadak hilang dari brankas penyimpanan pusat.
Nama-nama korporasi besar seperti PT WMU, CV EKM, SAE, dan AJ pun ikut terseret dalam pusaran kredit berdarah ini.
Sayangnya, jeritan keadilan di jalanan ini hanya disambut sikap normatif. Pihak Direksi Bank Jatim memilih merilis capaian kinerja keuangan positif ketimbang memberikan klarifikasi substansial. Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur dan Dewan Komisaris belum juga mengeluarkan tindakan tegas yang nyata.
Kecewa karena suaranya diabaikan di daerah sendiri, APMP Jatim kini mengancam akan memindahkan basis gelombang unjuk rasa mereka ke Gedung Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta demi mengawal hukum yang diduga ikut mandek di Bank Jatim Cabang Jakarta.
#KLIKKU.ID ANAM
