Sumenep | klikku.net – Pulau Gili Iyang merupakan destinasi wisata, yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata kelas dunia. Pulau dengan luas 9,15 km2 terbilang istimewa. Karena memiliki kandungan oksigen terbaik kedua dunia, setelah Laut Mati, Jordania.
Secara global negara dengan kandungan oksigen tertinggi adalah Laut Mati Yordania, Gili Iyang Indonesia, Pulau Tasmania Australia, Helsinki Finlandia, dan Honolulu Hawaii.
Berdasar hasil pengukuran yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di 17 titik di pulau. Hasil analisa menunjukkan kadar oksigen di Gili Iyang dalam kondisi normal sebesar 20,9 persen. Artinya di dalam volume 1 liter udara bebas terkandung 0,209 liter oksigen.
Meski berpotensi menjadi obyek wisata kelas dunia. Tetapi belum banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Gili Iyang, jika dibandingkan kunjungan ke destinasi lain di Jawa Timur.
Berdasarkan data di Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, selama tahun 2021 tercatat sebanyak 1.494 wisatawan yang datang ke Pulau Gili Iyang.
Angka ini meningkat pada tahun 2022 menjadi 2.460 wisatawan, dan pada tahun 2023 hingga bulan Mei, sebanyak 2.131 wisatawan.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Gili Iyang pada tahun 2023 sebanyak 128 orang.
Dalam rangka meningkatkan potensi wisata dan pengembangan produk wisata di Gili Iyang. Universitas Airlangga (Unair) berkomitmen membantu dan mendampingi masyarakat, untuk mengembangkan sumber daya pariwisata dan sumber daya manusia lokal.

Adapun kegatan yang dilakukan berupa pengabdian kepada Masyarakat Airlangga Community Development Hub (ACDH), yang terintegrasi dan melibatkan 15 Fakultas di Universitas Airlangga.
Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan Fakultas Vokasi Unair, terdiri dari 2 bentuk yaitu Sosialisasi potensi pariwisata dan FGD Pengembangan pariwisata di Gili Iyang. Serta Kegiatan pelatihan penyusunan paket wisata, dan pembuatan minuman kebugaran berbahan lokal.
Kegiatan Sosialisasi potensi pariwisata serta FGD Pengembangan pariwisata di Gili Iyang dilaksanakan pada tanggal 10 Novemner 2023 bertempat di Desa Banraas.
Kegiatan dimulai dengan identifikasi potensi pariwisata di 2 Desa yang ada di Gili Iyang yaitu Banraas dan Bancamara.
Adapun potensi kedua desa di Gili Iyang antara lain Pantai Ropet, Batu Canggah, Goa Mahakarya, Fosil Ikan Paus Raksasa, Pelabuhan, kuliner local, titik oksigen, kesenian local, dan terapi Kesehatan.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan FGD untuk mendiskusikan strategi pengembangan pariwisata di pulau yang dihuni 7.832 jiwa tersebut.
FGD Bersama stakeholder yaitu diskusi terpimpin untuk mengeksplorasi potensi, penyebaran, persepsi masyarakat, dan rencana pengembangan wisata Gili Iyang.
Kegiatan Sosialisasi dan FGD dipandu Dosen D4 Destinasi Pariwisata, Fakultas Vokasi Unair, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos, M.Si dan Mochammad Reizza Al Ariyah, M.Sosio.
Dari hasil FGD selain memotret potensi wisata namun juga mendiskusikan berbagai kendala pengembangan pariwisata di Gili Iyang.
Pertama, berkaitan dengan komponen aksesibilitas (terbatasnya akses transportasi umum, ketersediaan alat transportasi umum (darat/laut/udara), serta infrastruktur penunjang wisata di Pulau Gili Iyang yang masih terbatas.
Kedua, berkaitan dengan komponen atraksi wisata antara lain masih terbatasnya produk wisata (paket wisata), difersifikasi daya Tarik wisata belum beragam, marketing masih tergantung pada travel agent dari luar, kurangnya promosi wisata, dan lain lain.
Saat ini paket wisata yang banyak diakses wisatawan adalah paket yang diproduksi travel agen dari luar Madura.

Ada 2 paket yang ditawarkan kepada wisatawan yaitu paket fullday dan paket 2 day 1 night, tanpa menginap di pulau.
Di Gili Iyang sudah ada akomodasi. Tetapi masih belum banyak dimanfaatkan wisatawan, karena keterbatasan informasi dan kualitas akonodasi.
Untuk oleh-oleh yang berpotensi dikembangkan adalah gula siwalan dan produk olahan kelor. Ketiga, berkaitan dengan komponen amenitas atau sarana dan prasarana penunjang pariwisata: akomodasi/penginapan, ketersediaan makan minum, toko oleh-oleh/sevenir wisata, toilet duduk, air bersih, fasilitas perbankan, dll).
Keempat, berkaitan dengan penguatan komponen ancillary (kelembagaan) yaitu peran kelembagaan pendukung industry pariwisata seperti Dinas Pariwisata, Pokdarwis, Bumdes, PKK, kelompok kesenian local. Komunitas setempat, belum maksimal.
Kelima, komponen keterlibatan Masyarakat, yaitu bagaimana akses, control, partisipasi, dan manfaat pariwisata bagi Masyarakat local yang belum sepenuhnya berjalan.
“Sebagai output kegiatan, kami akan dirancang strategi pengembangan Pulau Oksigen Gili Iyang dengan menggunakan analisis SWOT. Stretegi pengembangan akan merekomendasikan program/kegiatan yang dapat dilaksanakan utuk memperkuat potensi wisata di Pulau Oksigen, Gili Iyang” jelas Ketua Tim, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S. Sos, M.Si.
“Sebagai data dasar Unair juga merekomendasikan pengembangan potensi wisata dalam bentuk produk dan daya tarik wisata.”imbuh anggota tim pengabdian, Mochammad Reizza Al Ariyah, M.Sosio.
Strategi pengembangan yang ada dapat digunakan sebagai acuan bagi stakeholder terkait dalam rangka pengembangan pariwisata dan peningkatan daya saing pulai oksigen Gili Iyang.
