SURABAYA | klikku.id – Angka stunting di Kabupaten Bangkalan kembali naik. Setelah sempat turun dari 38,9 persen pada 2021 menjadi 10 persen pada 2023, tahun 2024 justru melonjak lagi menjadi 17,7 persen.
Kondisi ini mendorong perguruan tinggi dan pemerintah daerah bergerak cepat menekan kasus gizi kronis yang menghambat tumbuh kembang anak.
Salah satu langkah nyata dilakukan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bersama Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata Kediri melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) bertema “Sinergi Pemberdayaan Keluarga dengan Tim Pendamping Keluarga dalam Upaya Pencegahan Stunting di Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)”.
Kegiatan yang dipimpin Dr. Ika Mardiyanti, S.ST., Bdn., M.Kes., bersama Dr. dr. Wiwik Winarningsih, M.Kes., dan Krisnita Dwi Jayanti, S.KM., M.Epid., ini berlangsung di Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan, sekitar 31 kilometer dari Surabaya.
Program ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendikbudristek 2025, sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam upaya penurunan stunting.
Peserta kegiatan terdiri atas Tim Pendamping Keluarga (TPK), calon pengantin, ibu hamil, serta ibu dengan balita. Mereka mendapatkan pelatihan tentang gizi seimbang, pemanfaatan Buku KIA, pijat bayi tuina, serta teknik pemantauan tumbuh kembang anak.
“Pencegahan stunting harus dimulai dari rumah dan dimulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan. Melalui edukasi ini, keluarga diharapkan lebih sadar pentingnya gizi dan pemantauan pertumbuhan,” ujar Dr. Ika Mardiyanti.
Ia juga memperkenalkan program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), yang mendorong ibu-ibu memanfaatkan bahan pangan lokal bergizi sebagai solusi sederhana dan murah mencegah stunting.
Kepala Desa Parseh, Moh. Ilyas, S.AP., mengapresiasi program ini. “Kami bersyukur Desa Parseh dipilih menjadi lokasi kegiatan. Semoga para kader dapat menularkan ilmu kepada warga lain agar angka stunting terus menurun,” katanya.
Pemerintah desa berkomitmen menyediakan Stunting Corner sebagai pusat edukasi gizi, pelatihan pijat bayi, dan kelas bagi calon pengantin.
Program ini menjadi wujud nyata pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), poin 2 (Tanpa Kelaparan), poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
“Pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang untuk masa depan anak-anak kita. Melalui kolaborasi lintas sektor dan edukasi berkelanjutan, Desa Parseh diharapkan menjadi model desa tangguh cegah stunting di Jawa Timur.” tegasnya. AMan
