BANGKALAN | klikku.id – Dinas Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (P2KP) Pemerintah Kabupaten Bangkalan meluncurkan langkah terintegrasi bertajuk “Bang Male 15” (Bangkalan Mandiri Lele 15 Ton Per Hari) sebagai pengungkit ekonomi perikanan budidaya sekaligus penguatan ketahanan pangan daerah.
Plt Kepala Dinas P2KP Bangkalan, Dr. CHK Karyadinata, menegaskan program ini disusun berbasis hitung teknis dan roadmap bertahap. “Kita mulai dari penghitungan kapasitas produksi awal, lalu menetapkan target 15 ton per hari. Penguatan dilakukan melalui intensifikasi produksi dengan sistem bioflok dan Recirculating Aquaculture System (RAS) agar efisien air, pakan, dan lahan,” ujarnya.
Delapan Pilar “Bang Male 15” merupakan Program yang dirancang dalam delapan pilar utama, Penghitungan kapasitas produksi awal. Penghitungan kapasitas produksi target. Intensifikasi produksi (bioflok & RAS). Mandiri pakan lele. Mandiri bibit lele. Revitalisasi Balai Benih Ikan (BBI). Pembentukan asosiasi lele Bangkalan, pola plasma & digitalisasi.

Menurut Karyadinata, kemandirian pakan dan bibit menjadi kunci menekan biaya produksi sekaligus menjaga stabilitas pasokan. Revitalisasi BBI dilakukan untuk menjamin kualitas benih unggul, sementara pembentukan asosiasi dan pola plasma memperkuat tata niaga. “Digitalisasi akan memudahkan pencatatan produksi, pemasaran, hingga akses pembiayaan,” tambahnya.
Selain sektor perikanan, P2KP Bangkalan juga memacu sektor tanaman pangan. Kepala Bidang Sarpras P2KP menyampaikan, program prioritas meliputi Bangkalan Produksi Beras Lokal. IP 300 seluas 2.000 hektare (peningkatan indeks pertanaman tiga kali setahun).
Target produktivititas padi 6,5 ton per hektare Rintisan pengembangan tebu dan kelapa. Bangkalan sebagai pusat pertanian perkotaan melalui UPT Balai Produksi Benih
IP (Indek Pertanaman) 300 menjadi strategi optimalisasi lahan sawah melalui dukungan sarana prasarana, irigasi, benih unggul, dan pendampingan penyuluh.
“Kita ingin sawah produktif sepanjang tahun. Dengan pola tanam terencana, produktivitas bisa terdongkrak dan pendapatan petani meningkat,” jelasnya.
P2KP juga merintis pengembangan tebu sebagai komoditas alternatif bernilai ekonomi. Skema ini dipadukan dengan penguatan kelembagaan petani serta akses pasar, sehingga rantai pasok lebih efisien dari hulu ke hilir.
Secara kebijakan, langkah P2KP Bangkalan selaras dengan program nasional Kementerian Pertanian Republik Indonesia dalam agenda Peningkatan Produksi dan Produktivitas Pangan Nasional.
Gerakan Peningkatan Indeks Pertanaman (IP 300), Penguatan Korporasi Petani dan Hilirisasi Pertanian, Modernisasi dan Digitalisasi Pertanian (smart farming), Pengembangan Kawasan Berbasis Komoditas Unggulan, Kementerian Pertanian mendorong transformasi pertanian dari pola tradisional menuju sistem modern berbasis teknologi, efisiensi biaya, serta integrasi hulu–hilir.
Program “Bang Male 15” dan IP 300 di Bangkalan menjadi representasi implementasi kebijakan tersebut di tingkat daerah. Dengan integrasi sektor perikanan, tanaman pangan, dan perkebunan, P2KP Bangkalan menargetkan peningkatan kesejahteraan petani dan pembudidaya, sekaligus memperkuat posisi Bangkalan sebagai lumbung pangan dan sentra perikanan budidaya di Madura.
“Kita ingin Bangkalan bukan hanya swasembada, tapi juga mampu menjadi pemasok regional. Ketahanan pangan harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” pungkas Karyadinata.
#Anam
