Daerah Ekonomi Bisnis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 21:49 WIB

2 jam yang lalu

logo

Dok Foto gambar klikku.id Biro Bangkalan.

Dok Foto gambar klikku.id Biro Bangkalan.

Amatar Menyala dari Desa, Royhan Bergerak dan Anam Menyebut Ini Harapan Baru Tunas Muda

Bangkalan | klikku.id — Disebuah sudut sederhana Kecamatan Tanah Merah, di tengah wajah desa yang kerap dipandang sebelah mata dalam urusan gerakan pemuda, harapan itu ternyata tumbuh pelan-pelan dari tangan anak-anak muda yang memilih tidak banyak bicara, tetapi bekerja. Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam Asosiasi Mahasiswa Tanah Merah (AMATAR), sebuah organisasi yang kini dipimpin Royhan, pemuda desa yang lebih memilih turun ke masyarakat daripada sekadar sibuk meramaikan forum diskusi kampus.

Di tangan Royhan, AMATAR tidak diarahkan menjadi organisasi mahasiswa yang hanya hidup saat seremoni, spanduk, atau rapat formal. Ia sedang dibentuk menjadi ruang pengabdian tempat anak-anak muda Tanah Merah belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar soal gelar, melainkan soal keberpihakan.

Satu per satu gerakan sosial mulai dijalankan. Mereka hadir lewat sunat massal gratis, cek kesehatan warga, santunan anak yatim, buka puasa bersama, hingga program “AMATAR Goes to School” yang mendatangi pelajar-pelajar SMA di Tanah Merah untuk menyalakan keberanian bermimpi tentang bangku kuliah.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda sosial biasa. Tetapi bagi warga desa yang merasakan langsung, kehadiran mahasiswa adalah bentuk perhatian yang tidak datang dari baliho, tidak pula lahir dari pidato panjang, melainkan dari kepedulian yang nyata.

Royhan memahami betul, mahasiswa tidak cukup hanya pandai berbicara tentang perubahan. Sebab perubahan, bagi dia, bukan pertama-tama lahir dari wacana, melainkan dari keberanian hadir di tengah kebutuhan masyarakat. Itulah mengapa AMATAR di bawah kepemimpinannya terasa berbeda lebih membumi, lebih dekat, dan lebih menyentuh.

Ketua Perkumpulan Jurnalis Bangkalan (Pejalan), Anam, melihat langkah yang sedang ditempuh AMATAR sebagai gerakan mahasiswa yang patut dijaga. Di tengah kecenderungan banyak organisasi pemuda sibuk membangun citra, ia menilai Royhan justru sedang membangun manfaat.

“Mahasiswa seperti ini yang dibutuhkan masyarakat. Bukan hanya hadir saat forum atau bicara di atas mimbar, tetapi hadir saat warga butuh bantuan, saat anak-anak butuh motivasi, dan saat masyarakat perlu sentuhan kepedulian,” ujar Anam.

Bagi Anam, apa yang sedang dilakukan AMATAR bukan sekadar rangkaian kegiatan sosial. Lebih dari itu, ini adalah proses pembentukan watak kepemimpinan anak muda. Dari hal-hal sederhana seperti mendampingi pelajar, menyantuni anak yatim, hingga membantu warga kurang mampu, lahir cara pandang baru tentang arti menjadi mahasiswa.

Mahasiswa, dalam pandangan itu, bukan sekadar kelompok intelektual yang berdiri jauh dari denyut kehidupan masyarakat. Mereka adalah kekuatan sosial yang seharusnya hadir di tengah warga, tumbuh bersama persoalan, dan ikut memikul beban yang dirasakan rakyat.
Royhan, kata Anam, sedang membawa AMATAR ke jalan yang lebih bernilai menjadikan mahasiswa bukan hanya cakap berpikir, tetapi juga peka merasa.

“Kalau gerakan seperti ini terus dirawat, Tanah Merah tidak akan kekurangan anak muda yang peduli. Dari desa seperti inilah biasanya lahir pemimpin yang tahu rasanya hidup bersama masyarakat,” lanjutnya.

Di tengah zaman ketika banyak anak muda berlomba terlihat hebat di media sosial, Royhan dan AMATAR justru memilih jalan yang sepi sorotan. Mereka bekerja, membantu, lalu pulang tanpa banyak tepuk tangan. Tidak gaduh, tetapi hadir. Tidak ramai, tetapi terasa.
Dan justru dari jalan sunyi seperti itulah harapan baru tumbuh.

AMATAR mungkin hanya organisasi mahasiswa daerah. Royhan mungkin hanya pemuda kampung biasa. Namun ketika keduanya memilih berpihak pada masyarakat, di situlah gerakan kecil menjelma menjadi harapan besar. (red)

25

Baca Lainnya