Ekonomi Bisnis

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:48 WIB

2 bulan yang lalu

logo

ParagonCorp Angkat Potensi Bioekonomi Indonesia di Forum Global London

JAKARTA | klikku.id – Potensi ekonomi hutan Indonesia kembali mendapat perhatian di tingkat internasional. Melalui ajang Partnership for Forests Conference (P4F) di London, Inggris, ParagonCorp memperkenalkan konsep bioekonomi yang memanfaatkan kekayaan alam tanpa mengorbankan kelestarian hutan.

Dalam forum yang didukung Pemerintah Inggris tersebut, ParagonCorp menjadi satu-satunya perusahaan kecantikan asal Indonesia yang berpartisipasi tahun ini.

Perusahaan itu membawa pesan bahwa hutan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat jika dikelola secara bertanggung jawab.

Salah satu yang diperkenalkan adalah prototype produk berbasis Illipe Butter, bahan alami yang berasal dari buah pohon tengkawang (Shorea stenoptera) di Kalimantan Barat.

Bahan tersebut dipanen oleh komunitas Dayak mengikuti siklus alami pohon tanpa pembukaan lahan maupun praktik deforestasi.

Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar dan berpotensi menjadi pilar bioekonomi berkelanjutan.

“Melalui forum ini kami ingin menunjukkan bahwa hutan yang tetap berdiri juga dapat menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola secara bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurut dia, Illipe Butter merupakan salah satu contoh hasil hutan non-kayu yang berpotensi dikembangkan untuk berbagai industri, termasuk sektor kecantikan.

Berbeda dengan komoditas yang membutuhkan pembukaan lahan baru, pemanfaatan hasil hutan non-kayu dinilai mampu menjaga keseimbangan antara ekonomi dan konservasi.

ParagonCorp menegaskan bahwa pengembangan Illipe Butter masih berada pada tahap riset dan pengembangan. Kehadirannya di P4F lebih ditujukan untuk membuka diskusi mengenai peluang bioekonomi Indonesia di masa depan.

Selain itu, ParagonCorp bersama Indika Nature dan CFES juga mendukung perlindungan sekitar 5.000 hektare kawasan hutan di Jambi dan Kalimantan yang menjadi habitat berbagai satwa liar, seperti macan dahan Borneo, bekantan, beruang madu, hingga rangkong gading.

“Keberlanjutan bukan hanya soal produk, tetapi juga bagaimana menjaga ekosistem dan komunitas yang mendukungnya,” tutup dr. Sari. AM@n


 

80

Baca Lainnya