Surabaya | klikku.net – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan pelayanan publik secara digital terus dikembangkan di Kota Pahlawan. Ini sebagai upaya memudahkan masyarakat mengurus perizinan dan lainnya.
“Sejak dipercaya memimpin Kota Pahlawan, ilmu-ilmu insinyur yang saya dapat di bangku kuliah saya terapkan di pemerintahan, dalam mengelola Pemkot Surabaya,” ujarnya, melalui keterangan resmi di Surabaya, Senin (8/5).
Cak Eri mengatakan, sistem tersebut sudah diterapkan di lingkungan Pemkot Surabaya. Serta terpajang di hampir semua kantor dinas, termasuk di ruang Klinik Investasi Gedung Siola Surabaya.
Sistem itu bergerak secara otomatis di layar monitor, yang memuat semua data tentang Surabaya. Mulai data warga miskin, stunting, hingga kinerja, dan capaian dinas serta kecamatan, maupun kelurahan.
“Saya bisa buat sistem sedetail ini, karena saya orang teknis. Ilmu teknis saya dan ilmu insinyur saya, berjalan dalam mengelola pemerintah di Surabaya,” ungkapnya.
Wali Kota yang baru saja meraih penghargaan Tokoh Inovasi Keinsinyuran dalam Pembangunan itu, juga menjelaskan sesuatu yang dianggap tidak mungkin pada awal-awal dia menjabat, seperti dalam pengentasan kemiskinan.
“Awal-awal banyak yang bilang tidak mungkin bisa, seperti Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) dan juga Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP),” katanya.
Saat itu ia meminta DSDABM membuat pelatihan pembuatan paving. Jadi, data kemiskinan yang sudah dihimpun oleh Dinas Sosial dipilih-pilah. Dan bagi warga miskin yang berkenan untuk kerja menjadi pembuat paving, dilatih oleh Dinas Sumber Daya Air. Dan setelah selesai pelatihan, diberikan order oleh Pemkot Surabaya.
Sedangkan untuk DPRKPP, saat itu ia meminta membuat pelatihan tukang bangunan. Jadi warga miskin yang sudah didata pemkot dipilah-pilah. Dan yang berminat menjadi tukang bangunan, lalu dilatih.
Kemudian ketika Pemkot Surabaya melakukan Program Rulatihu, mereka inilah yang menggarapnya. Selain itu bahan-bahan bangunan itu juga diambilkan dari toko bangunan, yang ada di sekitar rumah yang terkena Program Rutilahu itu.
“Di Surabaya ini, saya bikin banyak padat karya. Yang diantaranya itu bekerja jadi tukang bangunan dan juga pembuat paving. Jadi anggaran di setiap dinas itu tetap digunakan, untuk bisa mengentas kemiskinan di Surabaya,” pungkasnya.
