Komunitas Pendidikan

Senin, 22 Juli 2024 - 09:51 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Modal Sosial Barongsai, Pembelajaran Bagi Uwika dalam Menghadapi Tantangan Keberlanjutan Indonesia

Surabaya | klikku.net – Barongsai, tarian singa yang penuh semangat dengan busana warna-warni dan iringan musik yang ramai, diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad-17, seiring migrasi besar-besaran warga Tiongkok Selatan ke Indonesia.

Bangsa dan warga masyarakat, utamanya Milenial dan Gen-Z sendiri, tidak banyak yang mengetahui sejarah dan nilai-nilai tradisi Barongsai ini.

Oleh karena itu, melalui program pengabdian masyarakat yang ditancapkan dari perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Widya Kartika (UWIKA), melalui Dr. F. Priyo Suprobo selaku dosen pembimbing. Dengan para mahasiswanya, yakni Edward Valentino, Hutomo Setiadi, dan Kent Nelson dari Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin.

Mereka diajak untuk bersahabat dengan masyarakat secara langsung, yakni dengan Komunitas Ksatria Lion & Dragon Dance di Jalan Gading Pantai 1 No. 31, Dukuh Sutorejo, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya.

Program ini diharapkan mendekatkan para mahasiswa untuk lebih mengenal dan menggali perkembangan budaya yang penuh keberagaman di Indonesia. Serta terpanggil untuk turut melestarikannya, dengan belajar atas nilai-nilai yang didapat selama bersahabat dengan masyarakat, sebagai praktek nyata implementasi perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.

Edward dan kawan-kawan menjalani masa bersama melalui melihat, mendengar, berdialog dan turut andil dalam aktivitas harian Komunitas Ksatria Lion & Dragon Dance selama kurang lebih setengah semester (2 bulanan).

Dalam Barongsai, mereka menemukan bahwa aliran yang berkembang saat ini juga sudah mengalami modernisasi dalam bentuk dan warna Barongsai. Aliran dari utara yang biasa disebut ‘Beijingsai’ berbentuk singa di Klenteng (Qillin), dengan bulu lebat berfokus pada akrobatik pertunjukan.

Sementara, aliran dari Selatan biasa disebut ‘Hoksan’ untuk muka mulut bebek yang ceper dan ‘Fatsan’ untuk muka mulut kucing yang berbentuk W. Permainan Hoksan cenderung kalem berbeda dengan Fatsan yang lebih kaku.

Tarian Barongsai ini pernah mengalami pasang surut, utamanya saat menghadapi tantangan perbedaan pada masa pemerintahan Orde Baru yang berujung pertunjukan barongsai sempat dilarang keras.

Namun, seiring berjalannya waktu, pasca Orde Baru, Barongsai menjadi salah satu contoh nyata akulturasi budaya antara Tionghoa dan Indonesia. Kesadaran pentingnya melestarikan budaya semakin meningkat sehingga pada tahun 2010, barongsai resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Barongsai sendiri memiliki simbol dalam gerakannya. Loncatan tinggi melambangkan keberuntungan dan kemakmuran, sedangkan menunduk melambangkan kerendahan hati.

Topeng singa warna warni, tetabuhan musik yang keras dan kantong merah (ang pao) juga dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberkahan bagi yang menyelenggarakannya.

Potensinya sebagai identitas komunitas dan bangsa telah menjadi sarana untuk melestarikan tradisi leluhur, mempererat tali persaudaraan antar anggota yang juga banyak dari pribumi dan keluar mewujud dalam usaha gotong royong menciptakan peluang daya tarik wisata.

Tarian ini mengajarkan banyak hal bagi para mahasiswa bahwa keberagaman ternyata mampu beralkulturasi (menyatu) meski mengalami tantangan dan bahkan menjadi identitas bangsa.

Keberlanjutan Indonesia sudah saatnya ditangan para generasi penerus yang mampu menghidupi keberagaman sebagai jalan menuju persatuan.


@Man

171

Baca Lainnya